Monthly Archives: February 2015

us, always.

My other one.
Menulis tentangnya pun jadi pelarian.
Dari segala bentuk ke-absurd an.
Wajar menurutku.
Tidak buat mereka.
Parameter normatif yang sering tidak logis.
Kehidupan sampah yang diberi label.
Dan dikemas dalam bungkus yang indah.
Sebenar-benarnya adalah kosong.
Bahkan minus.
Hidup cuma sebesar bola dunia.
Isi seluruhnya hanya masalah.
Dan kita dihadiahi kalbu.
Yang tak bisa kusamakan dengan pikiran, apalagi hati.
Harusnya bisa dipakai.
Karena fungsinya lebih dari sebesar bola dunia.
Tapi seringnya jarang dipakai.
Lebih sering pakai hati.
Lahirlah produk baik dan jahat.
Banyak yang pakai pikiran.
Berbuah solusi sesaat yang penuh perhitungan.
Lebih bagus telanjangi saja pikiran itu sampai sebodoh-bodohnya.
Dan kuras isi hati sampai perih.
Menangis sepanjang waktu.
Padahal waktu saja buatku tidak ada.
Waktu cuma penanda.
Supaya banyak hal tidak bentrok dilakukan satu sama lain di saat yang sama.
Hai, perfect stranger…
Kutanya pada kalbuku, apakah kamu benar-benar real.
Kamu ada.
Bahkan sejak dulu. Lama ada.
Lebih dari sekedar ada.
Aku kamu satu.
Bukan menjadi satu.
What we’re having now is a crazy thing.
An absurd thing.
Yet real.
Beyond realistic.
Aku kamu satu.
Di dalam kehidupan yang penuh sampah.
Yet we will create a different world.
World of us.
Us.
Kapanpun, di manapun.
Us.

Always.

ketika venus lahir

ada yang bilang
hidup adalah komedi hitam
sebuah kesejajaran abnormal
atau unsur yang mengerikan
yang dibuat menjadi karya oleh para komikus
makin pekat dan larat maka makin nikmat

dalam riuhnya hujan,
apa pun tampak samar dan kabur
begitu juga kelamnya dunia
yang lucu pun tampak hitam
subuh itu venus lahir
menggantikan bulan
mencoba berkawan dengan matahari
berharap
hidup tak lagi komedi hitam

Alex Komang

Jam 9 malam tadi saya menerima telpon dari Mas Jerry, sebuah berita yang bikin saya shocked.
‘Oca, kamu sudah dengar kabar kalau Alex Komang meninggal dunia?’ pertanyaan yang saat saya dengar saya gak tau mesti dijawab atau tidak. Butuh waktu untuk saya bisa mencerna kata-kata Mas Jerry. Yang pada akhirnya saya cuma bisa jawab: ‘oh my God..’

Saya kenal Mas Alex sekitar lima tahun dan perkenalan awal kami cukup unik, lewat sebuah email. Mas Alex mengapresiasi salah satu foto saya. Sejak itu kami sering ngobrol di cafe Tator di Dharmawangsa Square atau di tempat makan favoritnya Ayam Bakar Ganthari di Blok M area. Sebelum akhirnya Mas Alex bikin cafe… hmm dia gak suka istilah cafe.. ya, sebelum akhirnya Mas Alex bikin Warung Darmin di Duren Tiga yang belakangan sering jadi tempat kami ketemu dan cerita-cerita tentang banyak hal.

Mas Alex adalah sosok orang yang sangat humble walau dia seorang aktor terkenal. Dia sering cerita tentang industri film dan juga senang mendengarkan saya cerita tentang industri periklanan. Tapi di antara semua cerita yang selalu dia sampaikan dengan penuh semangat, saya selalu menangkap perasaan sedih dan cinta yang luar biasa ketika dia bercerita tentang Aisyah, anak satu-satunya.
Ada satu momen yang saya gak akan pernah lupakan.
Pernah satu saat ketika saya undang Mas Alex via short message untuk datang ke pameran foto yang dibuat oleh teman-teman idLeica saya, dia bilang gak bisa hadir karena harus menjemput Aisyah yang datang liburan ke Jakarta dari sekolahnya di Kuala Lumpur dan saya tentunya sangat mengerti dan memaklumi. Tapi ternyata Mas Alex memberikan saya surprise karena akhirnya mau menyempatkan diri datang sebentar ke pameran setelah menjemput Aisyah dari bandara. Tentu saja saya senang. Buat saya, dia adalah orang yang memegang teguh komitmen dan selalu berusaha menyenangkan hati orang lain.

‘Membuat orang lain bahagia itu adalah sebuah berkah buat kita, Ca..’ begitu katanya dulu.

Saya belajar sedikit banyak tentang kehidupan dari Mas Alex. Tentang pemberontakan masa remaja, tentang akidah dan rasa sayang, tentang siang dan malam.
Betapa dia sangat mengagumi Teguh Karya, yang katanya hanya seorang Teguh Karya yang paling bisa menegur, memberi kritik dan memarahinya untuk bisa jadi lebih baik.

Terus terang, saya merasa kehilangan.
Dua bulan lalu, setelah memohon ijin memberikan nomor teleponnya ke salah seorang teman saya yang kebetulan butuh pertolongannya, kami berjanji ketemu untuk ngopi dan ngobrol tapi ternyata Tuhan memutuskan bahwa itu adalah kontak terakhir saya dengan Mas Alex. Tidak ada lagi kopi tubruk hitam dan singkong keju atau pisang goreng hangat yang bisa kami nikmati bersama.

Istirahat yang tenang di sana, Mas Alex.

Saya tidak mengenangmu sebagai seorang aktor senior berkualitas tapi saya mengenangmu sebagai seorang laki-laki baik yang berkarakter dan berkemauan kuat, pemberi kritik yang sempurna, teman yang selalu mendengarkan, ciptaan Tuhan yang tidak pernah habis-habisnya selalu menularkan semangat rahman rahiim ke orang-orang yang disayangi.

Saya mengenangmu sebagai seorang virgo sejati.

Rest in peace, Mas Alex.

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca Amarlis

‘when love arrives’

.. thank you for stopping by.
[Sarah Key & Phil Kaye]

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr