Monthly Archives: May 2014

Re-post: Do’a Maturana

Jangan paksakan kepadaku apa yang kauketahui.
Aku ingin menyelami apa yang tidak diketahui dan menjadi sumber dari penemuanku sendiri.
Biarkan yang diketahui menjadi pembebasanku, bukan penghambaanku.

Dunia kebenaranmu dapat menjadi pembatasan bagiku; kearifanmu menjadi sangkalanku.
Jangan menyuruh-nyuruh aku; mari kita berjalan bersama.
Biarkan kekayaanku dimulai di tempat kekayaanmu berakhir.

Tunjukkan kepadaku agar aku dapat berdiri di atas bahumu.
Ungkapkan dirimu agar aku dapat menjadi
sesuatu yang berbeda.

Kau percaya bahwa setiap manusia dapat mencintai dan mencipta.
Maka aku pun memahami rasa takutmu
ketika aku memintamu hidup sesuai dengan kearifanmu.

Kau tidak akan tahu siapa aku dengan hanya mendengarkan dirimu sendiri.
Tidak perlu repot menjadikanku begini atau begitu.
Kegagalanmu adalah jika aku menjadi identik denganmu.

[Monday, October 17, 2005]

a meow massages the heart

Sedikit bicara tentang kucing.
Entah kenapa tiba-tiba saya berpikir menulis mengenai kucing. Mungkin gara-gara belum lama ini saya digosipin hamil padahal yang hamil itu kucing saya. Tapi keguguran. Iyalah keguguran, belum satu tahun umurnya, kandungannya masih hijau. Mungkin itu adalah hasil dari hubungan syahwat pertamanya, dengan seekor kucing hitam punya tetangga yang suka main ke rumah.

Tapi tahu gak sih kalau pemerkosaan tidak pernah terjadi dalam dunia perkucingan? Musim birahi dipicu oleh kelenjar betina. Pada musim birahi ini kita akan sering melihat kucing jantan akan bertarung di antara sesamanya. Dalam setiap perkelahian antar kucing jantan, kucing betina lah yang memutuskan siapa yang akan mendapat giliran pertama untuk menyetubuhinya. Dan semua dapat giliran. Sabar saja, semua kebagian.

Saya suka kucing betina. Saya suka dengan fakta bahwa kucing betina lah yang menentukan dengan kucing jantan mana ia akan ‘berbuat’. Representasi dari sebuah power yang sungguh seksi.
Buat saya, kucing memiliki banyak cerita. Mulai dari cerita kalau kucing itu adalah makhluk jahat, seperti Cat Woman yang jadi musuhnya Batman dan tentang kucing setan yang selalu bawa sial, atau cerita tentang kucing jail dan tricky seperti Jerry pada kartun Tom & Jerry, kucing pemalas tapi super hero seperti Garfield sampai ke kucing yang sok imut seperti Hello Kitty. Kucing juga banyak dipakai untuk memberikan makna dalam sebuah kata atau kalimat. Seperti malu-malu kucing yang artinya malu-malu padahal mau banget, atau jangan beli kucing dalam karung yang yaaaah kita tahulah maksudnya apa, bahkan orang bule juga memakai istilah si pussy untuk menggantikan kata vagina.

Oke, lantas apa yang manusia bisa pelajari tentang kucing tadi? Tentang kucing yang tidak pernah memperkosa, tentang kucing yang selalu malu-malu tapi ternyata nafsu, tentang beli kucing dalam karung.

Sesungguhnya dalam setiap hubungan syahwat pertama, manusia seperti membeli kucing dalam karung. Seperti berjudi. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan mendapatkan sesuatu atau tidak. Kalau pun dapat, akan dapat seperti apa, sebesar apa? Ada ungkapan naif yang mengatakan kalau tidak karena cinta maka kita tidak akan rela bersedia menyerahkan diri untuk dinikmati oleh orang lain. Bullshit. Cinta itu take and give. Bukan give melulu. Pasrah, karena cinta? Padahal dalam hati berharap lebih. Itulah malu-malu kucing. Jadi apa bedanya dengan gambling? Dalam setiap gambling ada ketidakpastian, ada pertarungan emosi dan pikiran. Ada rasa ingin berkuasa. Rasa ingin menang. Ya seperti hal nya kita sedang bertarung.

Apakah salah jika saya bilang berhubungan syahwat itu seperti bertarung? Saling mengadu taring, mengasah cakar. Mengejar dan menghajar, bertubi-tubi. Menjajah dan menjelajah. Dan buat saya, setiap pertarungan yang bermutu, adalah ketika masing-masing bertarung untuk jadi pemenang. Walau kadang di satu waktu kita kalah, di lain waktu kita menang, bukan untuk kemudian diumumkan siapa yang menang dan yang kalah tapi ini lebih ke menjajal bentuk keseimbangan dalam sebuah momentum kenikmatan yang paling sebentar. Yang terpenting dalam setiap pertarungan adalah proses belajar. Belajar untuk megetahui sebuah aksi, reaksi dan sensasi. Kira-kira seperti itu.

Jadi belajarlah dari kucing. Kucing jantan yang selalu bertarung untuk mendapatkan apa yang ia ingin, kucing betina yang tidak pernah mengenal malu-malu kucing untuk bisa dengan fair memberikan kesempatan pertama bagi kucing jantan yang menang bertarung.

Mengutip Abraham Lincoln: ‘no matter how much cats fight, there always seems to be plenty of kittens.’

 

‘The people I liked were those who were able to do something with nothing – painters, writers and photographers. I looked into photography early on and I saw that there were sports photographers who needed an Olympian, fashion photographers who needed a model and war photographers who needed a war.
Cartier-Bresson and Robert Frank and Riboud and those guys – they didn’t need anything; they would just look out the window or go to the garden. In other words, the everyday life situation became a gold mine for these artists, and I gravitated towards the fact that you could take something right next to you and turn it into art or communication. I liked the integrity of journalism but I was always interested in photographs. Photographs didn’t have to communicate a great concept, they could just be’

-David Alan Harvey-
(via yes-lukewinter)

and now you’re mine


-Pablo Neruda-
voice: Andy Garcia & Julia Roberts

#lv #gpgt

sepuluh menit

Someone said: ‘i never thought ten minutes could mean so much.’

Cuma sepuluh menit.
Sepuluh menit yang katanya mampu membuatnya merasa dicintai. Diperhatikan.
Di saat ia sedang dalam kondisi ‘low’ karena pekerjaan dan lainnya, saya datang tanpa perlu memberitahu lebih dulu.
Hanya untuk memberikan pelukan, menguatkan hatinya, membuatnya merasa bahwa ia tidak sendiri. Ada saya.
Dan akan selalu ada saya, apa pun yang akan terjadi.

#lv #gpgt

tiga menit empat puluh empat detik

Sementara ia hanya butuh tiga menit empat puluh empat detik untuk bisa membuat saya merasa tidak sendiri. Suara yang begitu menenangkan, membuat saya merasa jauh lebih baik daripada tiga menit empat puluh lima detik sebelumnya.

Like he said: ‘you are not the only one with tears.. i have them more often than you think my love, that empty space, that hollow ground, that silent room is an effect beyond words.. done be alone, you have me.’

Yes, we have each other.

#lv #gpgt

poem 20

Tonight I can write the saddest lines.

Write, for example,’The night is shattered
and the blue stars shiver in the distance.’

The night wind revolves in the sky and sings.

Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.

Through nights like this one I held her in my arms
I kissed her again and again under the endless sky.

She loved me sometimes, and I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.

Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.

To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.

What does it matter that my love could not keep her.
The night is shattered and she is not with me.

This is all. In the distance someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.

My sight searches for her as though to go to her.
My heart looks for her, and she is not with me.

The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.

I no longer love her, that’s certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.

Another’s. She will be another’s. Like my kisses before.
Her voice. Her bright body. Her infinite eyes.

I no longer love her, that’s certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.

Because through nights like this one I held her in my arms
my sould is not satisfied that it has lost her.

Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.

-Pablo Neruda-

 

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr