Monthly Archives: April 2014

Tsai Ming-liang

Di art movie, director yang memiliki pemikiran dalam, treatment unik dan asik, selain Wong Kar Wai dan Michael Winterbottom, saya juga suka Tsai Ming-liang.
Belum banyak yang tahu soal dia. Memang kedengaran asing di telinga awam yang tahunya cuma film Hollywood. Saya pun baru ‘melirik’ dan mulai ‘tergetar’ dengan Tsai setelah nonton film dia di Jiffest entah tahun berapa, judulnya ‘What Time Is It There’.
Baru tahu ternyata film-film Tsai pernah merajai berbagai ajang festival film luar negeri sekelas Cannes Film Festival.

Karya Tsai menurut saya tergolong berat walaupun terkadang banyak orang yang menganggap Tsai terlalu bermain-main dan berlebihan dalam bereksperimen. Andai saja orang-orang yang memiliki anggapan seperti itu mau membiarkan otaknya berpikir saat menonton dan memiliki kesabaran dalam mengikuti semua bahasa visual yang disuguhkan Tsai.
Beberapa teman sempat ilfil (hilang feeling) ketika scene-scene singing dan dancing mulai keluar, hahahaa that’s his style! Saya suka cara Tsai menyampaikan sesuatu via singing dan dancing, bukan sembarang menyanyi dan menari, tapi ada sesuatu yang liar dan jujur terasa.

Clip movie trailer di atas contohnya, tanpa dialog Tsai mencoba menggambarkan sesuatu yang seductive, tentang sebuah mitos melalui images, bukan tipikal storyteller yang naratif.

Seperti juga di film ‘Walker’ yang saya sukaaaaa banget, Tsai mencoba melawan anggapan semua orang bahwa commercial cinema itu harus punya cerita naratif yang berstruktur, pemain utamanya harus perform, harus banyak action dan banyak background music untuk membangun emosi. Tapi Tsai berani untuk ‘gila’ membuat film yang bertentangan dengan tuntutan dan aturan persepsi orang umum akan sebuah film komersil.
Shot-shot dengan kamera statis yang Tsai ambil selalu mengekploitasi perasaan kelam yang dialami tokoh utamanya, gerakan-gerakan para pemain yang sangat minimalis yang kadang diulang-ulang. Hmm, kalau menurut saya konsep solitaire sepertinya menjadi ide Tsai yang paling mendominasi.
Saya suka film style-nya, which is usually slow yet beautifully framed. Simple approach.

Coba deh sesekali nonton film-film Tsai, pesan saya adalah harus sabar nontonnya. Anggap aja sedang meditasi.

contemporary dance

i like its emotion

suara

 

Iwan Fals pernah bilang kalau setiap satu suara merupakan satu harapan.
Harapan akan sesuatu yang lebih baik.
Dan tentunya sebagai orang dewasa yang sudah melewati banyak hal kita juga sangat mengerti jika harapan bisa saja berbuah menjadi kekecewaan.

Pernah ada teman yang bilang, kalau gak mau kecewa ya jangan berharap banyak. Saya highlight: jangan berharap banyak. Kalau berharap sedikit, boleh? Ya tentunya boleh, siapa juga yang akan ngelarang.
Berharap, sedikit atau banyak, tetap memiliki resiko akan kecewa. Tapi juga bisa melahirkan kebahagiaan jika apa yang diharapkan menjadi kenyataan.

Bukan hidup namanya kalau tidak memiliki harapan. Setiap manusia yang hati dan jiwa nya ‘kaya’ pasti memiliki banyak harapan dalam hidup ini dan belajar bagaimana mengatasi kekecewaan yang dialami ketika pengharapan tidak memberikan hasil apa-apa.

Saya dan tentunya setiap dari kalian juga memiliki harapan akan kehidupan bangsa yang lebih baik dari kemarin, dari hari ini. Keamanan di setiap wilayah dari ujung sana sampai ujung situ, kerukunan dan kekompakan warga yang begitu variatif habit dan believenya, pendidikan dan pelayanan kesehatan umum gratis serta lapangan pekerjaan yang harusnya terbuka luas, kehidupan yang sejahtera, dan seterusnya dan seterusnya.

Memang tidak sedikit juga yang sudah apatis memberikan suaranya untuk memilih kepada siapa-siapa saja harapan itu dititipkan. Lebih baik tidak memilih karena tidak ada yang pantas dipercaya. Lebih baik tidak memilih daripada nanti buntut-buntutnya kecewa karena salah pilih. Lebih baik tidak memilih, karena percuma.

Tidak percuma untuk memiliki harapan, walau sedikit saja. Tidak ada salahnya berharap dan memberi kesempatan pada beberapa orang-orang baik yang memang memiliki kemampuan dan kemauan lebih dari kita untuk berjuang berpartisipasi membawa perubahan yang baik.

Atau kalau memang masih ada di antara kita yang tetap keukeuh tidak menggunakan hak untuk memberikan suaranya, saya sih tetap respect.. tapi saran saya adalah kalian yang sengaja memilih golput karena merasa diri lebih mumpuni daripada calon-calon yang profile picturenya berbaris di lembar kertas pemilu mungkin ada baiknya di periode lima tahun ke depan kalian saja yang mencalonkan diri, do action… karena kan sudah talk less =)

Dan buat calon-calon yang terpilih, selamat bertugas. Banyak-banyak dengerin lagunya Iwan Fals yang judulnya Wakil Rakyat.

‘Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he’eh
Juara ha ha ha’

The point is, untuk memperjuangkan sesuatu yang baik bicaralah yang lantang.. jangan hanya diam.

 

 

#pemilu2014 #IndonesiaElection2014 #anakahensigagolput #guenyoblos #SayaSudahMemilih

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr