Monthly Archives: January 2014

kenapa suka pisau?

Beberapa orang bertanya hal yang sama.
Jawaban saya adalah kenapa tidak? ;)

Oke, serious now, saya suka pisau sejak saya lulus sekolah dasar.
Sejak saya harus mulai rutin membantu ibu saya di dapur setiap Minggu pagi.
Entah kenapa, ada saat ketika saya mengamati ibu saya mengiris bawang tipis-tipis, memotong kasar daun sawi dan menguliti kentang, membuat perasaan dan pikiran saya agak galau. Antara kengerian karena khawatir jemari ibu saya ikut teriris dengan kenikmatan mendengar suara yang ditimbulkan dan melihat hasil cacahan yang bisa begitu simetris dan sama besar. Paling takjub kalau melihat ibu saya sanggup mengupas kulit mangga dengan irisan super tipis yang melingkar utuh tidak terputus.
Oh waw, artsy banget! Hahahaa…

Tapi beneran deh, itu adalah moment awal perkenalan intens saya dengan pisau. Tugas awal saya dulu adalah memotong bayam dan mengiris wortel. Susah nggak? Nggak sih, tapi jari telunjuk kiri sering kena iris.
Sejak saat itu, saya dendam sama pisau. Pokoknya saya harus bisa menguasai dia. Apa pun bentuknya. Dari pisau dapur yang kecil, sedang sampai besar yang biasa buat motong ayam utuh.

Semakin bertambah usia saya semakin besar juga minat saya terhadap pisau. Saya mulai melirik pisau lipat. Kecil, tipis, runcing dan pastinya tajam. Ada satu pisau yang sampai sekarang saya masih belajar untuk bisa memainkannya, yaitu jenis balisong atau butterfly knife.
Gila, susah banget. Sudah tersayat beberapa kali tetap saja belum bisa-bisa.
Please kalau ada yang jago mainin balisong, email saya yaaa, pengen belajar privately.

Jadi alasan awal sukanya cuma karena dendam pernah tersayat pisau? Bukan. Tapi karena saya terlanjur jatuh cinta sama kilatan mata pisau, that glowing silver sharp line. It had me at ‘let’s get hurt’. Saya jatuh cinta karena efek sensasi yang terjadi ketika saya melihat kilatan pisau, ada misteri di sana, ada dilema yang terjadi, ada ketidakpastian sekaligus kepastian, ada kewaspadaan yang luar biasa tercipta, bikin deg-deg-an sekaligus terasa aman.

Aneh? Mungkin. Beberapa orang dekat saya bilang saya perempuan aneh karena suka koleksi pisau sementara banyak perempuan lainnya lebih suka koleksi tas hermes atau sepatu louboutin. Saya sih ketawa aja, ya saya khan mampunya cuma beli pisau, bukan tas hermes, hihihiii..
Koleksi saya gak banyak, karena selain susah dapat jenis pisau lipat yang simple, tajam dan classy tetapi juga karena saya punya kebiasaan kalau jalan jauh sendirian suka bawa salah satu pisau-pisau itu yang kadang saya suka lupa meletakkannya dalam bagasi sehingga sering disita sama pihak security saat boarding di bandara.
Ada dua pisau kesayangan saya yang terselamatkan karena saya ngotot minta tolong agar pisau saya tidak ditahan di bandara, waktu saya ke Nepal saya titipkan di pilotnya dan saya ambil kembali saat mendarat. Pheeww, puas banget!

Dan buat saya, perempuan seksi itu bukanlah perempuan yang menjinjing tas hermes atau berjalan dengan memakai louboutin, tetapi adalah perempuan dengan pisau di tangannya yang dipakai untuk mengiris bawang, memotong sayuran atau daging, mengupas buah untuk bisa diberikan ke orang yang dia cintai.

come rain

come rain
it’s a long moment, inside me
blue and dark
dry and thirsty
it’s a long journey
in the silent kilometer
a heart of stone
come rain
let me taste you
every single drop of your sweat
down from the sky, beautifully
hard then soft
causing no more pain
come rain
touch me, dance with me, like
the lips
kiss the skin

#lv

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr