Monthly Archives: September 2013

give us a little love

i really like people’s expressions and gestures..


[fallulah]

re-post: don’t take no for an answer

You know what, Oca..
One day we had been pitching for a sizable and important account.
We were in competition with 3 other big companies.
For almost three weeks we worked on our campaign.
Then at 5 pm one Wednesday evening we were told we were not on the shortlist of 2.
The client gave reasons why.
Normally we say, well tough, on to the next one. Not this time.
I went to our chief executive and said,
‘Call the client to tell him that we have another campaign prepared. Say you’ll be in his office with it at 9 am tomorrow morning’.
We didn’t have another campaign.
But by 8 am the next morning we had a completely new concept addressing the negatives he had found in the first one.
At 9 am it was presented.
On Friday evening we heard we had won the business.
It was a good weekend.
….

*as told by one of the well known multinational CCO in Jakarta – 2005

a thought



antara Tuhan dan saya

Anak-anak itu tidak lagi memiliki ibu dan ayah hingga harus mencari makan di jalan, apa yang akan orang dewasa lakukan untuk mereka?
Kasihan.
Mungkin itu yang sering terucap ketika melihat mereka.
Dan rasa kasihan seolah akan hilang ketika tangan ini memberi mereka  selembar atau sekeping logam rupiah ala kadarnya.

Begitu banyak anak-anak seperti itu di sana, dan apa yang sudah kita berikan kepada mereka?
Mungkin bukan kita, tapi saya.
Apa yang sudah saya lakukan untuk mereka? Apa yang sudah saya berikan kepada mereka?

Betapa inginnya saya membawa mereka ke rumah, bukan untuk sekedar memberi makan dan tempat berteduh, tapi lebih.
Saya mau menyayangi mereka.
Membimbing dan mengayomi, sebagaimana seorang ibu bagi mereka.
Setiap melihat anak-anak jalanan ini di luar sana, banyak sekali hal muncul di kepala saya dan tidak jarang secara mendadak air mata menitik di pipi saya.
Ingin rasanya bisa ngobrol sama mereka, mengajak mereka bermain, memberi mereka usapan di kepala atau bahkan memeluk mereka dengan harapan bisa menguatkan hati mereka.
Do’a selalu terkirim untuk mereka. Selalu, tak pernah putus.
Mudah-mudahan Tuhan menjaga mereka untuk tetap berada di jalan kebenaran dan selalu dilimpahi kebahagiaan.

Saya pernah berjanji waktu SMA dulu, dan masih tetap saya pegang janji saya itu. Saya akan berikan apa yang sanggup saya berikan untuk mereka.
Waktu saya, pikiran saya, tenaga saya, cinta saya.
Saat ini saya sedang berjuang. Berjuang untuk janji itu.
Itu hutang saya.

Dan sebelum saya mati besok, sudah harus jadi kenyataan.
Atau akan menjadi warisan untuk Ulan dan Al.
Paling tidak, sudah tersampaikan paradigma dan keinginan ini ke Ulan.
Saya senang bahwa Ulan siap mewujudkan janji saya jika memang saya benar-benar harus mati besok.

Mendengar Ulan berkata: ‘aku senang kalau bisa membantu dan aku mau jadi baik seperti ibu’ saja sudah memberi tambahan energy untuk bisa memperjuangkan janji saya.
Waktu itu saya menjawab: kamu harus jadi lebih baik dari ibu.
Dia tersenyum, dan mengangguk.

Tuhan, please bantu saya.
Bantu kami.

hidup itu pilihan?

Apakah benar hidup itu sebuah pilihan? Pilihannya siapa? Siapa yang memberikan pilihan? Pilihan antara apa dengan apa? Adakah di antara kita yang memilih untuk hidup jauh sebelum kita dikatakan hidup?

Apakah anak-anak terlantar di pinggir Jalan Sabang yang saya lewati kemarin itu punya pilihan untuk bisa dilahirkan oleh orang tua yang berkecukupan ketimbang oleh orang tua yang saking miskinnya hingga memutuskan untuk membuang anak mereka di dekat tempat sampah?

Apakah seorang laki-laki bisa memilih untuk dilahirkan menjadi perempuan ketimbang berkelamin laki-laki namun kemudian memutuskan untuk melakukan operasi pembesaran payudara ketika ia dewasa?

Jadi hidup itu pilihan? Atau hidup itu sebuah ketentuan?

Kalau iya, hidup itu sebuah pilihan, jangan-jangan apa yang kita jalani selama ini harus dipertanyakan lagi, siapa tahu masih ada pilihan-pilihan lain yang lebih baik?

Atau kalau memang hidup adalah sebuah ketentuan, apakah kita cukup rela menjalani ketentuan itu?

my happiness

 

as simple as one two three

-1-
one night
one conclusion
you

-2-
two lips
two minutes kiss
sweet butterflies

-3-
three brief golden moments rare
three glasses wine
love stays

#lv

 

re-post: cinta medusa

Cinta bisa jadi sabar dan baik, tapi juga bisa bergelora, pahit dan merusak.
Yang dapat memberikan kasih sayang tapi juga bisa menghancurkan kita berkeping-keping.

Seperti Medusa, tokoh antihero dari Yunani yang memangsa anak-anaknya sendiri dan buat saya ia adalah icon yang seharusnya bisa jadi pembelajaran buat semua perempuan bahkan juga laki-laki.

Medusa adalah seorang pendeta wanita yang cantik dan tidak berdosa di Kuil Athene.
Seorang dewi yang punya semua sifat positif dari seorang ibu muda.
Tapi kemudian ia dirayu, diperkosa oleh dewa laut Poseidon.

Athene, yang marah dan cemburu, mengubah Medusa menjadi Gorgon yang mengerikan, seorang wanita yang penuh kebencian, rambutnya menjadi sekawanan ular yang meliuk dan pandangan matanya dapat mengubah kaum pria menjadi batu.
Medusa hidup selama berabad-abad sebagai lambang paling kuat dari wanita yang dilukai dan dari kemarahan yang sengaja dilepaskan.

Dalam mitos Yunani yang asli, ketika Medusa dipenggal oleh pahlawan Perseus ( kuda bersayap Pegasus terlahir dari badannya yang telah mati ) dan darah yang menetes dari lehernya yang terpenggal ternyata mempunyai kekuatan penyembuh.

Medusa sendiri, sering dianggap memiliki dua sisi -buruk dan berbahaya, juga sumber kesuburan dan inspirasi-.
Dia adalah sisi gelap dari wanita sebagai ibu dan objek seksual, tapi dia juga punya potensi kekuatan pengubah yang luar biasa besarnya.

Dari situ seharusnya kita bisa belajar antara kebaikan dan kejahatan, perlawanan dan godaan, kewarasan dan kegilaan, ekstase dan kehampaan, cahaya dan bayang-bayang, cinta dan kehilangan…

Ada deskripsi tentang cinta yang sampai sekarang masih menjadi top of mind di kepala saya.
Definisi termasyur dari St. Paulus dalam kitab Perjanjian Baru.

‘Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,
dan bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada manfaatnya bagiku.
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan’.
I Korintus 13: 4-8

Damn… i do fall in love rite now.
Terhadap apapun itu.

[nov, 15 2005]

a bit about me and photography


Membentuk Mental Tangguh dengan Fotografi

Oleh Mardiana Makmun| Selasa, 5 Februari 2013 | 13:36

OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communication. Foto: Dok Pribadi
OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communications. Foto: Dok Pribadi

Hobi fotografi sudah merasukinya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Oca Amarlis pun makin menikmati hingga menjadikannya sebagai media untuk beramal dan proses menjadi seorang yang tangguh.

Wajah ceria anak-anak pedagang asongan di objek wisata Danau Batur, Bali, mencuri perhatian di pameran foto yang digelar Komunitas iDL, baru-baru ini. “Ini foto saya,” kata Oca Amarlis, sang fotografer kepada Investor Daily. “Foto ini saya ambil waktu ke Danau Batur, Bali. Saya lihat wajah mereka gembira sekali sembari mengobrol hasil penjualan hari itu,” lanjut Oca, humas Komunitas iDL.

Bukan kali ini saja Oca berpameran, tahun 2011 dan 2012, bersama komunitasnya, ia juga memajang karyanya. “Foto-foto itu dilelang dan hasilnya untuk disumbangkan. Tahun lalu kami menyumbang untuk operasi katarak gratis. Tahun ini karena tema pameran anak-anak, kami akan sumbang untuk membantu biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu,” kata Oca.

Oca pun bercerita, dunia fotografi ternyata mengajarkan banyak hal kepadanya, termasuk berbagi kepada orang lain dengan menyumbangkan hasil penjualan foto pameran. Sebuah kebanggaan pun ia rasakan, saat fotonya laku terjual dan dikoleksi kolektor foto.

Selain itu, foto mengajarkan sensitivitas dalam membaca sebuah kondisi, fokus terhadap subjek/objek, melatih kesabaran, dan harus punya rencana taktis untuk bisa tepat dalam membidik agar tidak kehilangan momentum. “Prosesnya itu membentuk mental tough dengan tetap memakai perasaan dan insting,” jelas perempuan yang juga gemar menulis, membaca, memasak, dan nonton film.

Kamera Ayah.
Oca menuturkan bagaimana awalnya ia menyenangi fotografi. Saat duduk di bangku SMP, Oca remaja senang bermain-main dengan kamera ayahnya. “Dulu masih pakai kamera film, banyak film yang gosong, tapi justru jadi penasaran. Selain itu, saya suka lihat foto-foto yang meaningful, yang ketika saya melihatnya mampu memberi kesan tersendiri. Bisa jadi bikin tersenyum atau malah berpikir, yang mampu menggerakkan hati dan pikiran atau mampu memberi ketenangan,” tutur Oca. Secara teori, teknik fotografi ia dapatkan saat ikut klub fotografi SMA 3, STIFOC. Selebihnya ia belajar otodidak, mengandalkan feeling. Objek yang disukainya adalah human interest dan benda-benda mati. “Saya rasa kedua objek itu bisa lebih bicara kalau tertangkap kamera,” kata Oca yang ke mana pun pergi selalu membawa kamera. Keterampilannya memotret makin terasah ketika bergabung dengan komunitas pengguna kamera Leica bernama Komunitas iDL yang didirikan Jerry Justianto. Awalnya, anggotanya cuma datang untuk ngumpul-ngumpul dan makan-makan ketimbang motret bareng. “Dulu waktu pertama-tama ngumpul justru belum pakai kamera Leica. Tapi karena teman-teman iDL asyik dan baik-baik, mereka welcome, sehingga membuat saya nyaman dan tergerak untuk tahu lebih banyak lagi tentang hasil foto dengan kamera ini,” cerita Oca.

Untunglah, Oca tak banyak menemukan kesulitan ketika pindah ke Leica X1. “Enggak terlalu banyak kesulitan, hanya sedikit kurang responsif saja dibandingkan kamera pocket atau SLR. Pakai Leica, harus pakai perasaan dan sabar, tapi output quality-nya enggak kalah sama SLR. Waktu nyoba seri M, rangefinder, kesulitannya lebih terasa. Enggak akan bisa zoom karena lensanya fix semua dan fokusnya yang manual membuat mata kita yang memegang peran utama dalam penentuan titik fokus,” jelas Oca yang sudah 10 tahun berkarier di bidang periklanan.

Bicara pekerjaannya, Oca mengatakan, banyak sekali tantangan di bidang periklanan, terutama di area people dan deadline. “Bagaimana kita setiap hari harus bisa dealing secara harmonis dengan orang lain, baik itu dengan internal team, client, pihak ketiga, partner kerja, dan sebagainya. Memperbesar skala bisnis juga menjadi challenge tersendiri yang enggak kalah menantang,” ujar Oca.

http://www.investor.co.id/home/membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi/53972

http://www.beritasatu.com/figur/95333-oca-amarlis-membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi.html

a bit about me: my parenting style


Mengasuh Anak dengan Cara Kreatif
Penulis : Wardah Fazriyati | Jumat, 30 Agustus 2013 | 12:55 WIB

KOMPAS.com – Kreativitas merupakan life skill yang semestinya dimiliki setiap pribadi agar bisa menjawab berbagai tantangan. Termasuk menjawab tantangan orangtua dalam mengasuh anak.Seperti apa kreativitas orangtua dalam mengasuh anak? Cara Rosa Amarlis (37), General Manager Power Brand Communications (advertising agency), bisa menjadi salah satu inspirasinya.Ibu dari Wulan Tsabita Anandisa (13), dan Q Lail Anandyo (9), ini punya cara kreatif dalam mengasuh anak. Alhasil, kedua anaknya pun tumbuh sebagai pribadi mandiri, kritis, juga peka dan punya empati tinggi terhadap lingkunganya.Menurut perempuan yang akrab disapa Oca ini, cara berpikir kreatif menjadi bekal dalam menjalani apa pun.  “Kreatif itu mindset. Hidup banyak tantangan yang harus disikapi dengan cara kreatif,” ungkapnya saat berbincang bersama Kompas Femaledi Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (29/8/2013).Dengan memiliki pola berpikir keatif inilah, Oca menerapkan pola pengasuhan yang tak sama untuk setiap anak, juga berbeda dari keluarga kebanyakan. Contohnya, ritual ibu bekerja seperti menelepon anak untuk menanyakan kabar di rumah dilakukan dengan cara yang tak monoton. Alih-alih menanyakan hal biasa seperti “Sudah makan atau belum?”, “Sedang apa di rumah?”, Oca memilih pertanyaan lain yang jauh dari kesan formalitas atau membosankan.”Saya lebih suka menanyakan ke anak saya mengenai hal menyebalkan apa yang dialaminya hari itu, ketimbang sekadar memastikan kebutuhan fisiknya terpenuhi seperti sudah makan atau belum. Anak-anak juga bisa menganggap ibunya membosankan jika setiap hari menelepon hanya menanyakan soal makan misalnya. Secara fisik boleh saja oke, tapi apakah anak menderita secara mental, ini yang saya perhatikan,” ungkapnya.Menanyakan kabar anak dengan ragam obrolan berbeda setiap  harinya hanya satu dari sekian cara pengasuhan kreatif ala Oca. Selain itu, ia juga menerapkan pola pengasuhan yang edukatif namun lebih aplikatif. Misalnya, saat anak pertamanya berusia tujuh, Oca mengajak Wulan jalan kaki dari rumah di kawasan Rawamangun ke mal terdekat. Oca bukan sekadar ingin meluangkan waktu bersama, namun ia tengah membangun kemandirian anak dengan mencontohkan. Oca menceritakan bagaimana ia mencontohkan anaknya cara aman berjalan kaki di jalan raya. Apa bedanya jika berjalan di sisi kanan atau kiri. Bagaimana cara aman menyeberang. Semua pembelajaran ini diaplikasikan langsung bukan semata lewat kata.

“Saat anak saya terpisah dengan asisten rumah tangga ketika jalan di mal, anak saya tahu jalan pulang, padahal usianya baru tujuh tahun,” ungkapnya bangga atas caranya memberikan edukasi aplikatif kepada anak-anaknya.

Oca juga sering memancing anak berpikir kritis. Ia memodifikasi gaya orangtuanya dulu dalam mengasuh anak. Oca berkisah, saat kecil ia punya jadwal rutin setiap malam untuk duduk bersama sang ayah menonton siaran berita, kemudian berdiskusi bersama ayahnya. Meski setelah punya anak, Oca tak menerapkan cara yang persis sama, ia juga mengajak anak berdiskusi, mendengarkan pendapat anak, dari tontonan yang disaksikan bersama anak-anaknya, termasuk berita.

“Saya tidak mengharuskan anak saya nonton berita seperti yang dilakukan ayah saya dulu. Tapi saya memancing anak untuk kritis dengan menanyakan pendapatnya saat menonton berita bersama,” katanya.

Memulai obrolan dengan cara apa pun bersama anak menjadi kebiasaan di keluarga kecil Oca. Alhasil, berbagai topik pun kerap dibahas bersama kedua anaknya. Bahkan topik yang mendalam seperti kematian pun dibahasnya.

“Saya menyiapkan yang terburuk. Kadang saya membahas kematian, bagaimana anak-anak sebaiknya bersikap kalau ayah ibunya meninggal. Obrolan semacam ini bisa dibahas kapan saja, tak selalu menunggu momen. Apa pun bisa jadi bahan obrolan,” ujarnya.

Meski tak semua orang sepakat dengan cara Oca dalam memilih topik obrolan, termasuk sang suami, ia meyakini dengan diajak berbincang santai dan berpikir kritis, anak akan terbangun karakternya. Benar saja, Oca mengaku kedua anaknya memiliki kemandirian dan kecerdasan berpikir. Ia pun merasa diberkati, karena kedua anaknya bisa memahami kondisi orangtuanya, dan mudah untuk diberikan pengertian.

“Saat liburan tiba, kalau saya benar-benar sibuk dan tak bisa berlibur bersama anak-anak, mereka memahami dan tak lantas merengek meminta liburan. Mereka sangat mandiri dan pengertian dengan orangtuanya,” tuturnya.

Bagi Oca, pola asuh yang diterapkannya merupakan hasil pembelajaran sepanjang hidupnya. Ia mengaku merasa beruntung dibesarkan dengan situasi yang sangat dinamis, dalam keluarga yang mengalami pasang surut. Perjalanan semasa kecil hingga dewasa inilah yang membentuk pola asuh perempuan berdarah Padang dan Solo ini. Selain kemandirian dan kreativitas yang juga menjadi kunci dalam pengasuhan anak di keluarganya.

Bagaimana dengan Anda, cara kreatif seperti apa yang diterapkan dalam mengasuh anak?

Editor :
Wawa

http://female.kompas.com/read/2013/08/30/1255172/Mengasuh.Anak.dengan.Cara.Kreatif

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr