Monthly Archives: January 2013

PLAYING GOD

From Wikipedia, the free encyclopedia

Playing God refers to someone supposedly taking on the role of God for human purposes. Alleged acts of playing God may include, for example, deciding who is to live or die, in a situation where not everyone can be saved. Usually the expression is used to invoke a precautionary principle or to suggest that someone should refrain from a controversial action.

What if God was one of us?

Laki-laki itu cuma bisa setengah mengucap nama Tuhan ketika sebuah borgol mengikat kedua tangannya menjadi satu. Tak pernah terpikirnya jadi seorang tahanan. Tahanan kasus korupsi. Apa yang akan terjadi dalam penjara nanti? Apakah ia akan jadi korban sodomi? Yang pasti ia akan menjadi bulan-bulanan preman penjara. Dan ia sangat ingin menangis sekeras-kerasnya saat ini. Ia setengah sadar bahwa ini semua akibat dari perbuatannya dulu.

Ia dulu mencoba bermain-main menjadi Tuhan.

Ia kira dengan kekuasaan penuhnya sebagai kepala sebuah instansi keuangan pemerintahan, ia bisa dengan semena-mena mengatur semua urusan tanpa akibat yang bisa memberatkan dirinya. Ia bebas mengatur orang, dari rotasi, mutasi, promosi, posisi basah di satu daerah dan daerah lainnya. Ia kira ia bebas menentukan proyek mana yang harus dilancarkan dan mana yang tidak, tergantung seberapa besar uang yang bisa dipotong untuk masuk ke dalam kas pribadinya. Ia kira ia akan selamat dalam permainan itu. Ia salah kira. Seseorang yang sakit hati karena urusan proyek melaporkannya ke KPK.

Ia kira bermain-main dengan kekuasaannya membuat ia semakin menjadi Tuhan karena semua orang harus turut dalam aturannya. Kini ia tunduk dalam kekuasaan Tuhan yang Maha Adil dan Menentukan. Tuhan yang telah memberinya kesempatan dan rizki yang luas tapi karena nafsu serakah kini ia harus siap menikmati pukulan preman penjara sebagai sarapan pagi.

Wanita itu terduduk diam. Terhenyak di kursi tunggu apotik sebuah rumah sakit melihat sebuah nilai total dalam sebuah kwitansi obat. Pembayaran yang berjumlah hampir setengah dari gaji bulanannya. Dan akan rutin mulai bulan ini ia keluarkan, paling tidak selama satu tahun. Ia divonis sakit pernafasan dan maag akut.

Ia dulu mencoba bermain-main menjadi Tuhan.

Ia berpikir ia bisa jadi penguasa penuh atas pikiran dan jasmaninya hingga ia melawan fakta bahwa menjaga kesehatan itu penting dan mengamini bahwa pekerjaan dan segala kesibukannya itu adalah yang maha penting. Ia melawan kodrat Tuhan bahwa tubuh itu perlu dijaga, butuh istirahat. Dilawannya semua itu dengan bekerja tak kenal waktu, lembur bermalam-malam tanpa tidur, makan apa pun yang ingin dimakan tanpa berpikir apakah makanan itu benar-benar memberi manfaat atau tidak, minum kopi berteko-teko dan suntik doping sebulan sekali agar tetap bisa on.

Ia pikir ia bisa melawan hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Pikirannya salah. Kini ia tunduk pada keinginan Tuhan, Yang memberinya sehat dan kini memberi pelajaran via sakit. Tuhan yang memiliki keputusan penuh akan diri kita, tubuh kita. Tuhan yang bisa mengambil kita kapan saja Ia mau.

Jakarta menangis. Menangisi warganya yang banyak sekali mencoba bermain menjadi Tuhan. Mungkin kita merasa dengan menjadi warga ibu kota maka berhak membuang apa pun ke mana pun di kota tempat tinggal kita ini. Mungkin para pimpinan ibu kota merasa punya kuasa penuh memberikan approval atas gedung-gedung dan mal-mal yang akan dibangun tanpa memikirkan dampak lingkungan dan sosial bagi kepentingan orang banyak.

Kita semua bermain-main menjadi Tuhan dengan segala kekhilafan-kekhilafan. Maka ketika kekhilafan itu membawa kita ke titik minus, masih adakah di antara kita yang menyalahkan Tuhan?

 

reality is stranger than fiction…?

Baru saja selesai baca sebuah cerita. Bukan cerita fiksi. Tapi terasa seperti sebuah fiksi. Bahkan lebih fiksi daripada fiksi itu sendiri hahahaa…
Fiksi itu terkadang memberi cerita yang berlebihan. Sengaja dilebih-lebihkan.
Super dramatic, supaya tidak terkesan seperti kejadian hidup yang sebenarnya, yang cenderung umumnya wajar dan biasa-biasa saja.

Jadi apa ceritanya? Yang tadi katanya bukan fiksi itu?!?

Tentang sebuah reunite couple. Cerita nyata yang terjadi di Rusia.
Tentang sepasang pengantin yang baru menikah tiga hari di tahun 1946, namanya Anna Koslov dan Boris, yang terpaksa sudah harus berpisah karena Boris harus bergabung lagi dengan kesatuan militernya di Red Army. Unfortunately, Anna couldn’t wait until his husband came back. Karena ada masalah politik, Anna dan keluarganya diasingkan ke Siberia. And nobody knew where she was. Jelas aja pas Boris pulang, ia gak bisa menemukan istrinya. Boris yang kehilangan jejak Anna beberapa tahun akhirnya memutuskan untuk menikah lagi walaupun ia masih belum bisa melupakan Anna. Begitu pun dengan Anna, ia menikah dengan orang lain setelah beberapa tahun di tempat perasingannya.

Sixty years passed. Istri Boris dan suami Anna sama-sama sudah meninggal. Tahun 2007, Anna kembali ke rumah yang dulu ia tinggali bersama Boris karena kebetulan pas salah satu keluarganya ada yang mengajak bernostalgia kembali ke Rusia. Miraculously, pada hari yang sama, Boris juga datang ke kota itu untuk mengunjungi makam orangtuanya yang dekat dengan area rumahnya dulu. Pas Boris turun dari mobil dan menoleh ke arah rumahnya, ia melihat seseorang yang ia tau banget itu adalah seseorang yang ia cintai. Yep, Boris melihat Anna di depan rumah lamanya.
Boris mendatangi Anna dan bilang: ‘my darling, i’ve been waiting for you for so long.. my wife, my life..’
Pasangan yang masih saling mencintai ini pun akhirnya menikah kembali. So sweet kaaaaan..?

It is not a novel or a movie story. Nope, it’s a reality. And yes, to me it’s stranger than fiction 🙂

 

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr