Monthly Archives: May 2012

reciclar el sueño

Matahari pagi mencium tirai putih di jendela hingga hangat kekuningan.
Wangi sinarnya menguapkan mimpi bersama lenguhan alarm.
Mimpi  yang berteriak merdu sepanjang malam, terpaksa membungkus mulutnya rapat-rapat.
Mengalah pada gemerlap pagi yang terlalu menyilaukan.
Mimpi mencoba sembunyi pada sela-sela bantal putih, mencari sela tergelap di antara putih.
Menunggu di sana sampai bulan datang menjemput.
Sampai bintang menjelma kunang-kunang besar.
Membawa mimpi itu terbang kembali dan bernyanyi.
Seperti tadi malam.
Dan malam-malam sebelumnya.
Mimpi yang selalu kudaur ulang, di antara bantal-bantal putih.
Setiap malam.

#2

[mr.brightside -- the killers]

pada sebuah cafe

Diawali dengan sebuah pertanyaan.
‘Ca, pernahkah kamu ngobrol tentang banyak hal berjam-jam dengan seseorang yang namanya saja baru kamu tau saat itu juga?’
Saya terdiam. Sedikit ragu mengangguk. Karena sebenarnya saya pernah ngobrol hampir tiga jam tentang apa pun dengan seseorang yang bahkan namanya belum saya ketahui sampai akhirnya kami harus berpisah, ketika akan pisah itu lah saya baru mengetahui namanya. Tapi entah kenapa walaupun tidak saling mengenal kami merasa seperti sudah teman lama waktu itu.

Terkadang memang sebuah percakapan yang menyenangkan justru sering terjadi di antara dua orang yang tidak pernah saling kenal sebelumnya. Masing-masing seolah menemukan sesuatu. Sesuatu yang menyisakan rasa nyaman. Sesuatu yang melegakan. Lega karena terlepas dari beban kisah yang kita tumpuk sendiri secara sadar yang entah kenapa seringkali enggan untuk kita ‘share’ ke orang-orang yang sudah kita kenal dengan baik. Lega karena detil-detil keluhan bisa terbuka tanpa paksaan dan tanpa khawatir akan direspon berlebihan. Kebebasan bercerita. Tidak ada batasan yang membuat beberapa topik menjadi tabu untuk dibahas. Sebuah percakapan tanpa pretensi. Dan terkadang percakapan sekualitas itu dapat melahirkan sebuah hubungan eksklusif yang akan membuat satu sama lain selalu ingin berbagi kata. Atau pun hanya berbagi diam. Tanpa sadar, saling membutuhkan.

Selalu ada awal. Dan pasti selalu ada akhir.
‘Kamu mudah percaya dengan orang yang kamu baru kenal, Ca?’
Pada dasarnya saya gak mudah percaya orang lain. Tapi ada. Ada beberapa orang baru yang bahkan hanya dengan melihat matanya dan merasakan auranya, naluri saya bisa mengatakan kalau saya sepertinya bisa mempercayai orang itu. Dan seringkali terbukti benar dalam prosesnya. Saya percaya Tuhan pasti selalu memberikan kita orang-orang pilihan yang menyumbang cerita di kehidupan kita yang akhirnya membuat kita semakin mengerti dan bersyukur kenapa kita bisa ada di dunia ini. Sesungguhnya saya tidak pernah ingin membebani diri dengan memberikan label kepada orang lain, dia dapat dipercaya atau dia tidak dapat dipercaya.
Saya cuma percaya kalau setiap orang dapat berubah. Setiap saat. Biar orang itu sendiri yang menentukan apakah dirinya bisa dipercaya atau tidak.

Minuman sudah hampir habis. Tinggal beberapa teguk saja pasti gelas itu menjadi kosong.
Seolah menjadi penanda bahwa obrolan harus segera diakhiri. Sudah waktunya menjadi hening.
Di sebelah sana kamu diam dengan mata ramah tapi kosong. Sedikit kelelahan tersirat.
‘Habiskan minumnya, setelah itu kita pulang.. ‘
Saya memilih tidak menghabiskannya dengan alasan yang sedikit sentimentil.
Biar percakapan kita yang terekam dalam sisa cairan dalam gelas bening itu tetap ada di sana. Sampai nanti waiter yang membuangnya ke basin pencuci. Sampai nanti kita bertemu lagi di sini. Sampai nanti semua pertanyaan habis terjawab. Sampai nanti kita bisa menentukan kapan akhir itu akan terjadi.
Sampai nanti.

 

insomnia

while the world was sleeping
we’re dancing
with our first compilation song

starting over again – natalie cole

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr