Monthly Archives: February 2012

#1

 

[a thousand miles - vanessa carlton]

 

how much is too much

 

Kapan terakhir kamu bicara dengan orang lain tentang diri kamu? Tentang cerita masa lalu kamu. Tentang masa kini kamu. Tentang apa-apa yang akan kamu lakukan untuk bisa dengan segera meraih masa depan kamu.

Kapan terakhir kamu berada di depan cermin dan berlama-lama menatap wajah kamu dan mulai mencoba angle-angle tertentu yang kalau suatu saat harus kumpul bareng teman-teman terus ada yang memotret, foto kamu dengan angle andalan itu bisa lebih stands out atau paling tidak gak jelek-jelek amat? Supaya kalau fotonya diapload di semua social connecting point, kamu merasa gak jatuh pamor secara visual. Syukur-syukur justru bikin kamu tambah dipuji dan disanjung banyak orang. You want to see just how cool you are, di mata kamu dan di mata orang lain.

Kapan? Minggu lalu? Kemarin? Tadi siang? Atau baru saja?

Tentunya semua orang ingin terlihat menarik di mata siapa pun, termasuk di matanya sendiri. Semua ingin terlihat hebat. Semua ingin menjadi pusat perhatian. Semua ingin lebih menonjol di banding yang lainnya.

Apakah itu salah?

Tidak.

Sejak ada dalam perut ibu kita, kita sudah menuntut perhatian itu. Tidak berhenti sampai ketika lahir. Bahkan mungkin bertambah kompleks perhatian yang diharapkan. Aku lahir maka aku ada. Aku ada dan aku butuh perhatian.

Bagaimana kalau tidak ada satu pun orang yang memperhatikan kita? Kita akan tetap mencari cara agar orang menoleh dan menyimak kita. Via cara apa pun. Itu sudah fitrah.

Lantas kenapa dong tadi pakai nanya-nanya kapan segala? Karena dari jawaban yang keluar bisa terdeteksi apakah kita ini  narcissist skala Small, Medium, Large atau Xtra Large. Atau justru Xtra Xtra Large. Cuma kamu sendiri yang tau jawabannya apa.

Era internet dengan social media websitesnya secara sadar menumbuhsuburkan tendensi narcissistic ini. Selama digunakan dalam porsi yang wajar, menurut saya tidak masalah.

Porsi wajar? Berarti ada porsi gak wajar dong? Iya ada, porsi nya too much. How much is too much in this case? Seseorang menchallenge saya dengan pertanyaan ini. (smile)

Porsi too much adalah di mana narcissistic ini mulai melahirkan sebuah kesombongan. Keegoisan. Kesombongan membuat kita berpikir bahwa kita selalu lebih dari yang lain. Kesombongan membuat kita selalu menuntut untuk berada di bawah spot lights, di mana pun, kapan pun, dalam situasi apa pun. Keegoisan semacam ini membuat orang lain pergi. Dan justru membuat kita semakin merasa sendiri dan kesepian, dan menuntut lebih banyak lagi eksposure. Kita tidak sadar semakin addicted to narcissism.

Pertanyaan terakhir, kalau kamu melihat majalah Indonesia Tatler atau majalah serupa lainnya dan melihat foto-foto beberapa orang yang sama terus muncul di setiap edisinya dengan atribut fashion dan lifestyle yang berbeda, skala narcissistic berapa yaaa kira-kira mereka itu? Atau, kalau kamu melihat instagram saya dengan segitu banyak #selfportrait atau FB yang banyak banget stock foto profilenya, kira-kira saya masuk di porsi yang mana? Hahahhaaa..

Anyway, narcissistic sebuah naluri alami, selama sanggup dikontrol, tidak merusak mental dan kebaikan yang ada pada diri kita, go ahead lakukan dalam porsi normal. Karena terkadang dari kenarsisan yang wajar mampu memberikan inspirasi positif bagi orang banyak.

Next topic will be about sex. Another challenge… (smile) (hug)

 

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr