Category Archives: movie

my top five movies about photography:


pecker -- 1998


closer -- 2004


everlasting moments -2008


fur: an imaginary portrait of diane arbus -- 2006


the secret life of walter mitty -- 2013

happy watching and enjoy!

Tsai Ming-liang

Di art movie, director yang memiliki pemikiran dalam, treatment unik dan asik, selain Wong Kar Wai dan Michael Winterbottom, saya juga suka Tsai Ming-liang.
Belum banyak yang tahu soal dia. Memang kedengaran asing di telinga awam yang tahunya cuma film Hollywood. Saya pun baru ‘melirik’ dan mulai ‘tergetar’ dengan Tsai setelah nonton film dia di Jiffest entah tahun berapa, judulnya ‘What Time Is It There’.
Baru tahu ternyata film-film Tsai pernah merajai berbagai ajang festival film luar negeri sekelas Cannes Film Festival.

Karya Tsai menurut saya tergolong berat walaupun terkadang banyak orang yang menganggap Tsai terlalu bermain-main dan berlebihan dalam bereksperimen. Andai saja orang-orang yang memiliki anggapan seperti itu mau membiarkan otaknya berpikir saat menonton dan memiliki kesabaran dalam mengikuti semua bahasa visual yang disuguhkan Tsai.
Beberapa teman sempat ilfil (hilang feeling) ketika scene-scene singing dan dancing mulai keluar, hahahaa that’s his style! Saya suka cara Tsai menyampaikan sesuatu via singing dan dancing, bukan sembarang menyanyi dan menari, tapi ada sesuatu yang liar dan jujur terasa.

Clip movie trailer di atas contohnya, tanpa dialog Tsai mencoba menggambarkan sesuatu yang seductive, tentang sebuah mitos melalui images, bukan tipikal storyteller yang naratif.

Seperti juga di film ‘Walker’ yang saya sukaaaaa banget, Tsai mencoba melawan anggapan semua orang bahwa commercial cinema itu harus punya cerita naratif yang berstruktur, pemain utamanya harus perform, harus banyak action dan banyak background music untuk membangun emosi. Tapi Tsai berani untuk ‘gila’ membuat film yang bertentangan dengan tuntutan dan aturan persepsi orang umum akan sebuah film komersil.
Shot-shot dengan kamera statis yang Tsai ambil selalu mengekploitasi perasaan kelam yang dialami tokoh utamanya, gerakan-gerakan para pemain yang sangat minimalis yang kadang diulang-ulang. Hmm, kalau menurut saya konsep solitaire sepertinya menjadi ide Tsai yang paling mendominasi.
Saya suka film style-nya, which is usually slow yet beautifully framed. Simple approach.

Coba deh sesekali nonton film-film Tsai, pesan saya adalah harus sabar nontonnya. Anggap aja sedang meditasi.

love me if you dare

cap ou pas cap?

weirdly romantic

the best scene in 2 Days in Paris, Julie Delpy directed the film, wrote the script and starred.. she’s awesome! how i love the script, especially in this scene.

destiny

Paperman. His destiny is written in paper. That small coincidence isn’t just random, or luck.
Everything happens for a reason.

saya dan manusia lainnya

[Video Footages & Photography by Diego Verges]

Antara saya dan manusia lainnya.

Menjadi saya dengan gender buatan ini tidak mudah, serasa ada di dua dunia. Dunia realita dan wanita. Memiliki sosok dan hardware laki-laki namun memiliki sifat, karakter dan cara hidup seperti wanita. Identitas yang seringkali mendapat stigma negatif dari masyarakat, bahkan keluarga sendiri.

Antara saya dan manusia lainnya, sesungguhnya tiada beda. Saya menghirup udara yang mereka hirup. Saya makan dari alam tempat mereka hidup. Saya tidur di bawah langit hitam, mereka juga. Saya pun bisa merasakan jatuh cinta, sama seperti mereka. Sama-sama punya hati. Sama-sama punya Tuhan.

Saya juga bersusah payah mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga yang masih mau menganggap saya, tiada beda dengan mereka, hanya saja saya harus bekerja jauh lebih keras beberapa kali lipat karena belum apa-apa sudah harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengeraskan mental dari cemoohan dan makian orang banyak. Saya terbiasa menerima perlakuan khusus, karena saya memang termasuk kategori orang khusus.
Orang khusus. Orang special. Karena saya laki-laki, tapi saya memiliki hasrat untuk terlihat cantik, indah dan bersikap lembut.
Karena saya laki-laki dengan naluri wanita. Saya sepenuhnya hidup dengan melanggar norma. Tapi ini bukan mau saya. Saya hanya ingin hidup nyaman, menjadi diri sendiri, tanpa perlu berpura-pura sampai mati.

Antara saya dan manusia lainnya, semoga bisa baik-baik saja.

finding yellow

the notes:
this is the story of a charming girl
she laughs out loud, sings off key and believes in taking chances
she is quick and curious and playful and strong
she lets her imagination run away with her
she has never been one to stick to convention
she is fond of daydreams that take her places
she can order a cocktail in six different languages
she feels that understated is overrated

a film by kinga burza for kate spade new york

.. and how i love those yellows!

trishna

About a journey of hope and disappointment, Michael Winterbottom’s film, based on Thomas Hardy’s novel Tess of the d’Urbervilles (1891).

 

the love letter

Film romantis yang tidak terlalu wow buat orang kebanyakan, bahkan tidak dibuat untuk masuk dalam box office, bahkan dalam beberapa review hanya dapat rating 4 atau 5 dari skala 1 sampai 10. Tapi buat gw, cerita film ini sedikit lebih baik dari Message in the Bottle tapi dengan tingkat ke-corny-an yang sama.

Film ini menarik karena bercerita tentang sebuah korespondensi tradisional yang tidak tersentuh teknologi komunikasi yaitu surat. Surat cinta tidak beralamat yang memiliki efek dahsyat yang menghebohkan di sebuah desa kecil yang semua penduduknya saling tau urusan orang lain. Penduduk desa yang kepo level parah yang gak ada bedanya sama penduduk twitter masa kini =)

Topik yang menjadi main story adalah krisis wanita setengah baya dan sex drive yang tinggi, persahabatan antar dua wanita, pria yang setia setiap waktu, kebohongan-kebohongan putih, secret yearnings dan fantasi-fantasi pikiran.

Ada wanita lajang berumur, Helen, yang gaya hidupnya lumayan nyentrik untuk ukuran desa sekecil Loblolly. Dia selalu rutin lari pagi dan punya sebuah toko buku kecil yang dikelola bersama temannya, Janet dan dibantu oleh dua calon mahasiswa yang usianya tergolong berondong.

Helen menemukan surat cinta tak beralamat yang kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, dan mereka semua berpikir kalau surat itu memang ditujukan untuk diri mereka. Helen mulai berfantasi dan membayangkan tentang si penulis surat. Gw suka saat ada scene dimana ada seseorang membacakan isi surat itu sebaris demi sebaris, ‘do you know how in love with you i am? did i trip? did i stumble? lose my balance, graze my knee.. graze my heart?’ Hahahahaa..

Kadang dialognya membuat gw berharap ini adalah sebuah film bisu, saking corny-nya, tapi film ini menarik kalau dilihat dari perspektif sifat, sikap dan karakter manusia dalam merespon sebuah message.

Buat gw, it’s a nice romantic comedy movie.

TDKR

Ini bukan review film. Bukan opini kritis tentang film The Dark Knight Rises atau tentang bagus jeleknya film ini dibanding dua film Batman terdahulu.

Ini tentang symbol.
Kalau posting sebelumnya gw memaknai angka 8, kali ini tentang symbol dari rangkaian kata dan visual dalam sebuah film box office yang terakhir gw tonton itu.

Satu kalimat yang pernah dilontarkan Bruce pada Alfred dalam sebuah perjalanan menuju Gotham di film Batman sebelumnya: “People need dramatic examples to shake them out of apathy, and I can’t do that as Bruce Wayne. As a man, I’m flesh and blood; I can be ignored, I can be destroyed. But as a symbol…as a symbol I can be incorruptible. I can be everlasting.”
That statement about symbol is just flat out brilliant to me, it’s really describe who Batman is.

Menjadi seseorang yang dijadikan sebuah icon pastinya tidak mudah. Menjadi symbol seorang penjahat kelas gajah sekali pun tidak menjadikannya lebih mudah, karena harus terus konsisten berkomitmen dalam niat, pikiran, ide, konsep dan perbuatan untuk terus bisa berbuat kejahatan. Apalagi symbol manusia super baik, lebih sulit lagi, harus senantiasa berperang terhadap ego dan pikiran negatifnya sendiri terlebih dulu sebelum berbuat apa yang menurutnya baik untuk jutaan manusia lain. Gw gak akan membahas soal pahlawan dan penjahat, baik dan buruk, putih dan hitam. Sekali lagi, ini masih soal symbol.

Dalam The Dark Knight Rises kita bisa melihat bagaimana sebenarnya manusia itu butuh untuk tetap optimis. Optimis dengan hidupnya. Optimis di kehidupannya. Untuk selalu optimis terkadang kita membutuhkan suatu bentuk, figur, yang bisa meresonansikan keoptimisan tersebut.
Bahkan seorang super hero membutuhkannya. Pun seorang penjahat dingin berotak cemerlang dan romantis seperti Bane membutuhkannya. Bane memotivasi hidupnya berlandaskan dendam dan cinta. Masker di mukanya merupakan tambahan atribut yang memperkuat symbol misterius dan kekejaman emosi yang tidak tertebak, berbeda dengan teror sadis Joker yang terekspresikan secara blak-blakan.

Kita juga bisa melihat bagaimana kondisi Gotham diporak-porandakan oleh Bane, pemberontakan serupa revolusi Perancis yang diciptakan Bane, issue tentang sistem pemerintahan, kesenjangan kaya miskin, korupsi dan birokrasi berlayer yang dikritisi, sampai soal peradilan yang tidak memberikan pilihan untuk hidup. Kondisi itu simbolisasi kekhawatiran akan situasi Amerika dan Eropa yang belakangan mengalami ketidakstabilan pertumbuhan ekonomi dan politik. Terlalu banyak symbol dalam film ini yang bisa dimaknai dengan banyak hal dan bisa dilihat dari beberapa point of view. Kaya akan makna. Sarat akan hati, jiwa, emosi, pikiran dan tentunya harapan.

Yang paling bisa gw jadikan reference untuk menjalani hidup gw dari beberapa pemaknaan dalam film ini adalah:
#Rise. Rise. Rise. Symbol dalam bentuk kata motivasi yang ditangkap Bruce Wayne untuk bangkit kembali menjadi Batman setelah mental dan harapannya terjerembab berkali-kali.

#It doesn’t matter who we are, what matters is our plan. Bane mengatakan ini di awal film. Dan kalimat semacam itu pernah dinasihati ke gw oleh seseorang yang sangat gw respect, karena memang pada akhirnya tidak lagi menjadi penting siapa yang berbuat tapi lebih penting apa yang diperbuat dan apa impactnya buat orang banyak.

#I’m adaptable, kata Selina Kyle. Satu positioning diri yang selalu gw pegang sejak dulu. Mencoba menjadi bunglon dalam banyak situasi. Ketika harus bermain, bermainlah dengan cantik. Ketika dituntut serius, seriuslah sampai otakmu mengering. Ketika memang dibutuhkan untuk menjadi warna hitam, corenglah mukamu dengan arang asal hatimu tidak. Hahahaa.. kedengarannya kok seperti tidak punya prinsip ya? Ini beda. Gak bisa digaris-silangkan dengan prinsip. Fleksibelitas atau kelenturan dalam beradaptasi terhadap sesuatu sangat dibutuhkan kalau kita mau tetap survive.

#A hero can be anyone. Even a man doing something as simple and reassuring as putting a coat around a little boy’s shoulders to let him know that the world hadn’t ended. Semua juga tahu ini artinya apa. Tapi apakah semua bisa melakukan ‘those little good job’ dengan konsisten sepanjang hidupnya? Silahkan bertanya pada diri masing-masing.

Batman, symbol super hero yang juga sebenarnya manusia biasa yang bisa merasakan dan mengalami hal-hal yang biasa ditemui dalam hidup. Seperti kita.

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr