Category Archives: kids

#al bday

besok adalah hari ibu, hari ini kamu adalah hadiah buat aku besok.. selamat ulang tahun, al sayang!

to whom it may concern.. please don’t..

THIS IS HOW I LEARNED MY COLORS
by Laila Achmad

See the purples? Daddy made these by grabbing my arms while ripping off my clothes.
But don’t worry, it will fade out.

See the blues? Mommy made these by heating me up when I wouldn’t say I’m lying.
But don’t worry, it will fade out.

See the reds? Teacher made these with her iron ruler when I begged for help.
But don’t worry, it will fade out.

See the whites? The doctors made me see these for months.
But don’t worry, it will fade out.

See the black? I made this myself.
But this time it will not fade away.

***

just don’t let them learn that way,
please..

being a mother is an attitude, not a biological relation

Beberapa minggu lalu saya sempat membaca sebuah headline di koran yang dijajakan oleh tukang koran jalanan di perempatan lampu merah, seorang ibu menganiaya anak balitanya sampai patah tulang lengan dan kaki.
Saat membaca headline itu saya mendadak mual.
Diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam berharap agar emosi saya cepat stabil. Tapi sayang, satu kalimat di koran itu sudah terlanjur membuat airmata saya meleleh.

Saya tidak pernah habis pikir kalau ada orang tua, apalagi ibu, bisa menyiksa anak-anaknya. Anak yang lahir dari rahimnya, terbentuk dari darah dan dagingnya. Bagaimana mungkin bisa?
Yang membuat saya menangis adalah jika membayangkan bagaimana impact atau trauma apa yang akan terjadi pada si anak setelah mengalami penyiksaan dari orangtuanya, apalagi dari seorang ibu.

Apakah dia akan membenci ibunya hingga sanggup untuk membalas dendam suatu ketika nanti?
Apakah dia akan takut dan menjadi sangat menuruti apa pun yang dikatakan dan diperintah ibunya, sehingga tidak penting lagi untuk membuka mata dan hati terhadap sekelilingnya?
Apakah dia akan menjadi bungkam dan numb terhadap kehidupan yang masih panjang yang harus dia jalani?
Apakah dia akan menjadi seorang psikopat, yang tampak baik di luar sementara jiwa nya siap membantai apa pun secara kejam?
Apakah dia hanya akan totally menjadi gila, tidak waras, dan harus menghabiskan sisa hidupnya di satu sudut rumah sakit jiwa?

Penyiksaan adalah tindakan kriminal.
Terhadap siapa pun atau dalam bentuk apa pun itu. Ke anak, ke orang tua, ke orang lain, ke hewan, ke tumbuhan, ke lingkungan, ke diri sendiri.
Pasti memiliki dampak serius.

Penyiksaan tidak melulu bentuknya selalu fisik. Justru banyak sekali trauma-trauma kecil yang terakumulasi karena bentuk penyiksaan secara verbal.
Kadang kita sebagai orangtua, terutama ibu, sering menggunakan ancaman agar anak bisa secara instant menuruti apa yang kita inginkan. Seperti misalnya: kalau raport kamu sampai ada angka merah, kamu tidak boleh keluar rumah buat main sama teman-teman selama sebulan, no TV, no playstation, no gadget. Atau: ayo dihabisin makannya, kalau gak habis nanti kamu dibawa sama nenek sihir. Atau: kamu bukan anak mama kalau kamu gak nurutin apa kata mama.
Ancaman-ancaman kecil yang sering kali tanpa kita sadari kita lakukan dan memiliki potensi untuk membuat anak menjadi tidak feeling secure bersama orangtuanya, terutama ibu.

Pernahkah ada benda kesayangan kita yang dirusak secara tidak sengaja oleh anak dan kemudian kita memarahinya habis-habisan atau bahkan sampai main fisik (mencubit, memukul atau tindakan kasar lainnya)?

Seorang teman perempuan saya tahun lalu sering sekali intens cerita tentang anaknya. Bagaimana si anak membenci ayahnya atau suaminya itu dan hal tersebut membuat dia merasa tidak nyaman berada dalam rumahnya sendiri. Ternyata kebencian anaknya bermula dari saat dia tidak sengaja mematahkan spion mobil BMW kesayangan ayahnya karena terlalu kencang bermain roller blade di parkiran depan rumah. Spion patah dan sedikit baret pada body mobil.
Suaminya sangat marah dan mengurung anaknya di kamar mandi sampai anaknya nangis jejeritan pun tidak digubris.
Sejak itu, si anak merasa bahwa ayahnya lebih cinta kepada BMWnya daripada dirinya.
Teman saya, ibu dari si anak itu, sampai datang ke psikolog untuk meminta solusi atas trauma yang dialami anaknya.

Anak itu titipan. They are gift.
Ada peranan kita dalam kehadiran mereka di dunia ini.
We have to treat them well, bukan hanya dengan support materi dan fasilitas terbaik, justru yang terpenting adalah support cinta dan kasih sayang.
Itu yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri ketika saya harus menghadapi situasi-situasi daily seputar parenting yang menguji kesabaran dan kebijaksanaan saya sebagai ibu bagi Ulan dan Al.
Jangan jadikan anak-anak sebagai pelampiasan ego dan keinginan masa kecil kita yang tidak terwujud.
Jangan siksa mereka dengan perkataan atau fisik yang bisa menyakitkan dan menorehkan luka trauma di jiwa mereka.
Karena jika kita lakukan itu, artinya kita sedang mendidik dan mengarahkan anak-anak kita menjadi seorang monster.

Selamat Hari Ibu.

*to my dear Al, happy birthday sayang.. you are God’s greatest gift for me on this mother’s day.

hmm..

there are some more illustrations that ulan tsabita made for sapotofu vocaworks, those two above are just a sample.
i love the first video because ulan said that she was inspired to draw the main object by me with our new cat, bree charlotte, ha3 how cute!

#lanabit

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr