Category Archives: philosophy

ketika venus lahir

ada yang bilang
hidup adalah komedi hitam
sebuah kesejajaran abnormal
atau unsur yang mengerikan
yang dibuat menjadi karya oleh para komikus
makin pekat dan larat maka makin nikmat

dalam riuhnya hujan,
apa pun tampak samar dan kabur
begitu juga kelamnya dunia
yang lucu pun tampak hitam
subuh itu venus lahir
menggantikan bulan
mencoba berkawan dengan matahari
berharap
hidup tak lagi komedi hitam

repost my hyperealistic: see. feel. real.

Sometimes a simple word can mean a lot to someone.

The word like “hi..” can rise up your smile. Or the words “morning, my reality..” can make you blushed into pink. Or “you are beautiful” can change your whole attitude. Or “I hate you” can break your heart.

Word can inspire, encourage, and convey love. They can poke and prod and compel to action.

Someone said: i see you.
And i said: i see you too.

Familiar with that? yes, simple words taken from Avatar movie.

It was about connection. Cosmic connection?

See. Feel. Yes, sometimes connection can happens without a word.
You can see it. You can feel it. You just knew it. Universe send you messages with intangible words. Like in a middle of nowhere you see things and you dream about it and suddenly it’s there. Is it a law of attraction, or what?

I have this cosmic connection. It’s amazing. Yet it’s a strange thing. Perfectly strange condition. Beautifully strange connection. Perfectly perfect.

Re-post: Do’a Maturana

Jangan paksakan kepadaku apa yang kauketahui.
Aku ingin menyelami apa yang tidak diketahui dan menjadi sumber dari penemuanku sendiri.
Biarkan yang diketahui menjadi pembebasanku, bukan penghambaanku.

Dunia kebenaranmu dapat menjadi pembatasan bagiku; kearifanmu menjadi sangkalanku.
Jangan menyuruh-nyuruh aku; mari kita berjalan bersama.
Biarkan kekayaanku dimulai di tempat kekayaanmu berakhir.

Tunjukkan kepadaku agar aku dapat berdiri di atas bahumu.
Ungkapkan dirimu agar aku dapat menjadi
sesuatu yang berbeda.

Kau percaya bahwa setiap manusia dapat mencintai dan mencipta.
Maka aku pun memahami rasa takutmu
ketika aku memintamu hidup sesuai dengan kearifanmu.

Kau tidak akan tahu siapa aku dengan hanya mendengarkan dirimu sendiri.
Tidak perlu repot menjadikanku begini atau begitu.
Kegagalanmu adalah jika aku menjadi identik denganmu.

[Monday, October 17, 2005]

gorgeous story. lush artwork. forbidden sensation.


Reading ‘The Griffin & Sabine Trilogy’ really provides me a different kind of reading experience, i surely can lose myself in its pages over and over again, very complex and feels like jump into a mysterious world. It’s kind of epistolary novel. The story is told in strangely beautiful postcards and richly decorated letters that must actually be removed from their envelopes to be read. Magical artwork.

And how poetic the letters are. Intriguing correspondence. All the words is deliciously creepy, romantic, honest, simple statements, complex feelings, sometimes dreamy, sometimes desperate, sometimes full of hope. Beautiful pain i had when reading some of the postcards and some letters from Sabine. Why are so many coincidences happening in my life, dear God? Jan 29?

Sabine
If you are reading this, then you exist…

Strange. I liked.

Yasmin’s Pesan

Thanks to Iyo, gara-gara gw lihat dia beli buku ini waktu di pembukaan Kineforum di Monas gw langsung lari ke booth penjualan dan grab that book. Tinggal satu. Lucky me. Buku yang udah lama banget gw cari tapi gak tau belinya di mana hahahaa..

“YASMIN HOW YOU KNOW”
Tentang seorang Yasmin Ahmad.
Gw gak akan nulis di sini dia itu siapa, silahkan google saja.
Buku ini isinya koleksi dari pesan-pesan dia, yang dicollect dari banyak sources. Dari blognya dan dari ingatan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Yasmin has passed away, yes, tapi bukan berarti dia pergi tanpa meninggalkan pesan. She left plenty.
Beberapa tentang kehidupan dunia periklanan, tentang good work-nya, tentang team-nya, tentang klien, tentang cara dia bekerja, tentang time sheets.
Beberapa tentang kehidupan keluarganya, tentang orangtua, tentang saudara perempuannya, tentang keponakannya, tentang family value.
Beberapa tentang pemikiran liarnya, tentang hujan, tentang puisi, tentang film, tentang intuisi, tentang suicide, tentang kebahagiaan, tentang cinta.
Beberapa tentang Tuhan.

Ada yang pingin gw share di sini.

Yasmin on her secret of success:
Work hard, pray hard and be kind to your parents and do a lot of sedekah but don’t tell anyone.

Yasmin on climbing up in life:
Don’t always want to go up. Go down, like water, because eventually it’ll go up again. Just like rain, it falls from the sky, flows as a river, then merges with the sea, then goes up again as a cloud.

Yasmin on what to do before going to bed:
Seek forgiveness from God and forgive everyone who has hurt you.

Yasmin gave advice when backstabbed:
Why waste your energy on vengeance when you get so much more back with love?

Yasmin on perfection:
It is perfect to be imperfect, because perfection is made up of many imperfections put together that makes it perfect.

Yasmin on reincarnation:
Reincarnation is not that difficult to understand. After all, I was a sperm in my past life. Now I am a human.

Yasmin on writing TV commercial scripts:
Trust your feelings. Be a sharp observer of your feelings and your surroundings. Then you’ll be ok.

Yasmin on scriptwriting:
The best way to write a script is from your own life experiences.

Yasmin on relating to people:
Do not look down on those below you. And don’t fear those above you.

Yasmin on talent:
You are a star. And I’m a superstar for recognizing your star quality.

Yasmin on integrity:
I fired the client because they made a racist remark.

Yasmin on break-ups:
If he loves you, apa pun he will hang around. That monyet celaka doesn’t deserve someone so beautiful.

Yasmin on love:
Love is like oxygen, without it you can’t breathe.

Itu beberapa pesan pendeknya, masih banyak cerita panjang tentang dia yang sangat inspiratif, cerita-cerita kekonyolan dan kegilaan dia, keberanian dan kejujuran dia yang ditangkap dan diceritakan kembali oleh para sahabat dan orang-orang tercintanya. Ada speech yang dia berikan saat ada pertemuan dengan Sri Lankan business community yang keren parah, dia buka dengan sebuah pertanyaan: ‘who the hell do we think we are’. Dan the most beautiful things di buku ini adalah beberapa puisinya yang aaaaarrgh gw suka banget.

So, kalau saja Yasmin masih hidup, terus gw ketemu dia dan misalnya dia tanya: ‘how you know, Oca?’ Pastinya gw akan jawab: ‘i love you, Yasmin’.

 

hidup itu pilihan?

Apakah benar hidup itu sebuah pilihan? Pilihannya siapa? Siapa yang memberikan pilihan? Pilihan antara apa dengan apa? Adakah di antara kita yang memilih untuk hidup jauh sebelum kita dikatakan hidup?

Apakah anak-anak terlantar di pinggir Jalan Sabang yang saya lewati kemarin itu punya pilihan untuk bisa dilahirkan oleh orang tua yang berkecukupan ketimbang oleh orang tua yang saking miskinnya hingga memutuskan untuk membuang anak mereka di dekat tempat sampah?

Apakah seorang laki-laki bisa memilih untuk dilahirkan menjadi perempuan ketimbang berkelamin laki-laki namun kemudian memutuskan untuk melakukan operasi pembesaran payudara ketika ia dewasa?

Jadi hidup itu pilihan? Atau hidup itu sebuah ketentuan?

Kalau iya, hidup itu sebuah pilihan, jangan-jangan apa yang kita jalani selama ini harus dipertanyakan lagi, siapa tahu masih ada pilihan-pilihan lain yang lebih baik?

Atau kalau memang hidup adalah sebuah ketentuan, apakah kita cukup rela menjalani ketentuan itu?

re-post: cinta medusa

Cinta bisa jadi sabar dan baik, tapi juga bisa bergelora, pahit dan merusak.
Yang dapat memberikan kasih sayang tapi juga bisa menghancurkan kita berkeping-keping.

Seperti Medusa, tokoh antihero dari Yunani yang memangsa anak-anaknya sendiri dan buat saya ia adalah icon yang seharusnya bisa jadi pembelajaran buat semua perempuan bahkan juga laki-laki.

Medusa adalah seorang pendeta wanita yang cantik dan tidak berdosa di Kuil Athene.
Seorang dewi yang punya semua sifat positif dari seorang ibu muda.
Tapi kemudian ia dirayu, diperkosa oleh dewa laut Poseidon.

Athene, yang marah dan cemburu, mengubah Medusa menjadi Gorgon yang mengerikan, seorang wanita yang penuh kebencian, rambutnya menjadi sekawanan ular yang meliuk dan pandangan matanya dapat mengubah kaum pria menjadi batu.
Medusa hidup selama berabad-abad sebagai lambang paling kuat dari wanita yang dilukai dan dari kemarahan yang sengaja dilepaskan.

Dalam mitos Yunani yang asli, ketika Medusa dipenggal oleh pahlawan Perseus ( kuda bersayap Pegasus terlahir dari badannya yang telah mati ) dan darah yang menetes dari lehernya yang terpenggal ternyata mempunyai kekuatan penyembuh.

Medusa sendiri, sering dianggap memiliki dua sisi -buruk dan berbahaya, juga sumber kesuburan dan inspirasi-.
Dia adalah sisi gelap dari wanita sebagai ibu dan objek seksual, tapi dia juga punya potensi kekuatan pengubah yang luar biasa besarnya.

Dari situ seharusnya kita bisa belajar antara kebaikan dan kejahatan, perlawanan dan godaan, kewarasan dan kegilaan, ekstase dan kehampaan, cahaya dan bayang-bayang, cinta dan kehilangan…

Ada deskripsi tentang cinta yang sampai sekarang masih menjadi top of mind di kepala saya.
Definisi termasyur dari St. Paulus dalam kitab Perjanjian Baru.

‘Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,
dan bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada manfaatnya bagiku.
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan’.
I Korintus 13: 4-8

Damn… i do fall in love rite now.
Terhadap apapun itu.

[nov, 15 2005]

a bit about me and photography


Membentuk Mental Tangguh dengan Fotografi

Oleh Mardiana Makmun| Selasa, 5 Februari 2013 | 13:36

OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communication. Foto: Dok Pribadi
OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communications. Foto: Dok Pribadi

Hobi fotografi sudah merasukinya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Oca Amarlis pun makin menikmati hingga menjadikannya sebagai media untuk beramal dan proses menjadi seorang yang tangguh.

Wajah ceria anak-anak pedagang asongan di objek wisata Danau Batur, Bali, mencuri perhatian di pameran foto yang digelar Komunitas iDL, baru-baru ini. “Ini foto saya,” kata Oca Amarlis, sang fotografer kepada Investor Daily. “Foto ini saya ambil waktu ke Danau Batur, Bali. Saya lihat wajah mereka gembira sekali sembari mengobrol hasil penjualan hari itu,” lanjut Oca, humas Komunitas iDL.

Bukan kali ini saja Oca berpameran, tahun 2011 dan 2012, bersama komunitasnya, ia juga memajang karyanya. “Foto-foto itu dilelang dan hasilnya untuk disumbangkan. Tahun lalu kami menyumbang untuk operasi katarak gratis. Tahun ini karena tema pameran anak-anak, kami akan sumbang untuk membantu biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu,” kata Oca.

Oca pun bercerita, dunia fotografi ternyata mengajarkan banyak hal kepadanya, termasuk berbagi kepada orang lain dengan menyumbangkan hasil penjualan foto pameran. Sebuah kebanggaan pun ia rasakan, saat fotonya laku terjual dan dikoleksi kolektor foto.

Selain itu, foto mengajarkan sensitivitas dalam membaca sebuah kondisi, fokus terhadap subjek/objek, melatih kesabaran, dan harus punya rencana taktis untuk bisa tepat dalam membidik agar tidak kehilangan momentum. “Prosesnya itu membentuk mental tough dengan tetap memakai perasaan dan insting,” jelas perempuan yang juga gemar menulis, membaca, memasak, dan nonton film.

Kamera Ayah.
Oca menuturkan bagaimana awalnya ia menyenangi fotografi. Saat duduk di bangku SMP, Oca remaja senang bermain-main dengan kamera ayahnya. “Dulu masih pakai kamera film, banyak film yang gosong, tapi justru jadi penasaran. Selain itu, saya suka lihat foto-foto yang meaningful, yang ketika saya melihatnya mampu memberi kesan tersendiri. Bisa jadi bikin tersenyum atau malah berpikir, yang mampu menggerakkan hati dan pikiran atau mampu memberi ketenangan,” tutur Oca. Secara teori, teknik fotografi ia dapatkan saat ikut klub fotografi SMA 3, STIFOC. Selebihnya ia belajar otodidak, mengandalkan feeling. Objek yang disukainya adalah human interest dan benda-benda mati. “Saya rasa kedua objek itu bisa lebih bicara kalau tertangkap kamera,” kata Oca yang ke mana pun pergi selalu membawa kamera. Keterampilannya memotret makin terasah ketika bergabung dengan komunitas pengguna kamera Leica bernama Komunitas iDL yang didirikan Jerry Justianto. Awalnya, anggotanya cuma datang untuk ngumpul-ngumpul dan makan-makan ketimbang motret bareng. “Dulu waktu pertama-tama ngumpul justru belum pakai kamera Leica. Tapi karena teman-teman iDL asyik dan baik-baik, mereka welcome, sehingga membuat saya nyaman dan tergerak untuk tahu lebih banyak lagi tentang hasil foto dengan kamera ini,” cerita Oca.

Untunglah, Oca tak banyak menemukan kesulitan ketika pindah ke Leica X1. “Enggak terlalu banyak kesulitan, hanya sedikit kurang responsif saja dibandingkan kamera pocket atau SLR. Pakai Leica, harus pakai perasaan dan sabar, tapi output quality-nya enggak kalah sama SLR. Waktu nyoba seri M, rangefinder, kesulitannya lebih terasa. Enggak akan bisa zoom karena lensanya fix semua dan fokusnya yang manual membuat mata kita yang memegang peran utama dalam penentuan titik fokus,” jelas Oca yang sudah 10 tahun berkarier di bidang periklanan.

Bicara pekerjaannya, Oca mengatakan, banyak sekali tantangan di bidang periklanan, terutama di area people dan deadline. “Bagaimana kita setiap hari harus bisa dealing secara harmonis dengan orang lain, baik itu dengan internal team, client, pihak ketiga, partner kerja, dan sebagainya. Memperbesar skala bisnis juga menjadi challenge tersendiri yang enggak kalah menantang,” ujar Oca.

http://www.investor.co.id/home/membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi/53972

http://www.beritasatu.com/figur/95333-oca-amarlis-membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi.html

why?

ocaamarlisSomeone asked me, why do you like to play billiard?
Hmm, perlu diam sejenak untuk menjawab pertanyaannya. Kalau mau gampang siy tinggal bilang aja kalau gue suka dan gak ada particular reasons. Tapi gak bisa. Karena sebenarnya memang ada alasan khusus.

Dalam permainan billiard, kita belajar untuk bisa tenang, fokus, berani untuk ambil keputusan cepat, mengasah orientasi ruang secara presisi, melatih akurasi shooting, to trust your instinct, to get things done with less mistakes.
Ketika sedang bermain, saat mendapat giliran memukul bola, gue hanya berpikir tentang saat itu, it’s about a now moment, bukan kemarin, bukan tadi dan bahkan bukan nanti. Sama seperti hidup, gue mencoba lebih fokus menjalani dan mencari solusi dari problem atau situasi yang terjadi saat itu juga, saat sekarang. Bukan terhadap apa yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

Semua hobby yang gue jalani selalu punya background alasan yang kurang lebih sama, gak pernah mau menjalani sebuah hobby yang gak bisa kasih benefit dalam perkembangan diri gue secara emosi, mental, feeling dan pikiran. That’s why i like billiards, as i also like photography, cooking and driving.

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr