Category Archives: people

2016 untuk saya:

adalah merupakan titik awal saya kembali menjadi diri sendiri.

Tahun yang tanpa ada lagi keraguan sedikit pun terhadap Tuhan. Tahun yang membiarkan saya memilih meraih kebahagiaan yang sebenarnya. Tahun di mana orang-orang yang benar-benar menyayangi saya, kembali tersenyum setelah sekian lama menyimpan sedih. Tahun yang memancarkan cinta, walaupun cuaca sedang labil. Tahun yang penuh dengan dukungan dan doa terbaik.

Semoga, ketika saya berproses menjadi sesuatu yang lebih baik dari yang dulu, waktu tidak lagi meninggalkan ruang kosong tanpa pijakan dan genggaman. Waktu memang akan selalu seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.. cepat melesat dan tidak akan pernah berbalik kembali, hingga tujuan akhir kiranya memang perlu di-set sejak awal supaya tidak sia-sia terbuang percuma di proses perjalanannya.

Perjalanan tentang keberanian dalam mengambil keputusan, tentang kesabaran menghadapi banyak tempaan, tentang harapan-harapan yang tak cepat saya tenggelamkan, tentang hubungan-hubungan yang tak begitu saja  bisa dipatahkan, tentang pemikiran-pemikiran yang mengantar pada kedewasaan dan kebijaksanaan, tentang pertahanan yang membawa diri sampai menjadi yang ‘sekarang’, tentang kejujuran diri, tentang perasaan cinta yang pada akhirnya dipertunjukkan, tentang melihat kematian, tentang impian versus kenyataan, tentang segalanya.

Perjalanan hidup saya selama 2016 akan terdeliver via gambar di posting berikutnya nanti.

 

Oca amarlis

‘If we are serious about combating selfishness and promoting compassion in the world, then is it not vital that we develop the tools of intellectual self-defense to deal with these assaults on our minds and hearts? The solution must lie in reversing the priorities, in subordinating dead things—money, capital, profits— to life: people, animals, the planet.’
[David Edwards - Life or Death]

Alex Komang

Jam 9 malam tadi saya menerima telpon dari Mas Jerry, sebuah berita yang bikin saya shocked.
‘Oca, kamu sudah dengar kabar kalau Alex Komang meninggal dunia?’ pertanyaan yang saat saya dengar saya gak tau mesti dijawab atau tidak. Butuh waktu untuk saya bisa mencerna kata-kata Mas Jerry. Yang pada akhirnya saya cuma bisa jawab: ‘oh my God..’

Saya kenal Mas Alex sekitar lima tahun dan perkenalan awal kami cukup unik, lewat sebuah email. Mas Alex mengapresiasi salah satu foto saya. Sejak itu kami sering ngobrol di cafe Tator di Dharmawangsa Square atau di tempat makan favoritnya Ayam Bakar Ganthari di Blok M area. Sebelum akhirnya Mas Alex bikin cafe… hmm dia gak suka istilah cafe.. ya, sebelum akhirnya Mas Alex bikin Warung Darmin di Duren Tiga yang belakangan sering jadi tempat kami ketemu dan cerita-cerita tentang banyak hal.

Mas Alex adalah sosok orang yang sangat humble walau dia seorang aktor terkenal. Dia sering cerita tentang industri film dan juga senang mendengarkan saya cerita tentang industri periklanan. Tapi di antara semua cerita yang selalu dia sampaikan dengan penuh semangat, saya selalu menangkap perasaan sedih dan cinta yang luar biasa ketika dia bercerita tentang Aisyah, anak satu-satunya.
Ada satu momen yang saya gak akan pernah lupakan.
Pernah satu saat ketika saya undang Mas Alex via short message untuk datang ke pameran foto yang dibuat oleh teman-teman idLeica saya, dia bilang gak bisa hadir karena harus menjemput Aisyah yang datang liburan ke Jakarta dari sekolahnya di Kuala Lumpur dan saya tentunya sangat mengerti dan memaklumi. Tapi ternyata Mas Alex memberikan saya surprise karena akhirnya mau menyempatkan diri datang sebentar ke pameran setelah menjemput Aisyah dari bandara. Tentu saja saya senang. Buat saya, dia adalah orang yang memegang teguh komitmen dan selalu berusaha menyenangkan hati orang lain.

‘Membuat orang lain bahagia itu adalah sebuah berkah buat kita, Ca..’ begitu katanya dulu.

Saya belajar sedikit banyak tentang kehidupan dari Mas Alex. Tentang pemberontakan masa remaja, tentang akidah dan rasa sayang, tentang siang dan malam.
Betapa dia sangat mengagumi Teguh Karya, yang katanya hanya seorang Teguh Karya yang paling bisa menegur, memberi kritik dan memarahinya untuk bisa jadi lebih baik.

Terus terang, saya merasa kehilangan.
Dua bulan lalu, setelah memohon ijin memberikan nomor teleponnya ke salah seorang teman saya yang kebetulan butuh pertolongannya, kami berjanji ketemu untuk ngopi dan ngobrol tapi ternyata Tuhan memutuskan bahwa itu adalah kontak terakhir saya dengan Mas Alex. Tidak ada lagi kopi tubruk hitam dan singkong keju atau pisang goreng hangat yang bisa kami nikmati bersama.

Istirahat yang tenang di sana, Mas Alex.

Saya tidak mengenangmu sebagai seorang aktor senior berkualitas tapi saya mengenangmu sebagai seorang laki-laki baik yang berkarakter dan berkemauan kuat, pemberi kritik yang sempurna, teman yang selalu mendengarkan, ciptaan Tuhan yang tidak pernah habis-habisnya selalu menularkan semangat rahman rahiim ke orang-orang yang disayangi.

Saya mengenangmu sebagai seorang virgo sejati.

Rest in peace, Mas Alex.

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca Amarlis

to whom it may concern.. please don’t..

THIS IS HOW I LEARNED MY COLORS
by Laila Achmad

See the purples? Daddy made these by grabbing my arms while ripping off my clothes.
But don’t worry, it will fade out.

See the blues? Mommy made these by heating me up when I wouldn’t say I’m lying.
But don’t worry, it will fade out.

See the reds? Teacher made these with her iron ruler when I begged for help.
But don’t worry, it will fade out.

See the whites? The doctors made me see these for months.
But don’t worry, it will fade out.

See the black? I made this myself.
But this time it will not fade away.

***

just don’t let them learn that way,
please..

repost my hyperealistic: see. feel. real.

Sometimes a simple word can mean a lot to someone.

The word like “hi..” can rise up your smile. Or the words “morning, my reality..” can make you blushed into pink. Or “you are beautiful” can change your whole attitude. Or “I hate you” can break your heart.

Word can inspire, encourage, and convey love. They can poke and prod and compel to action.

Someone said: i see you.
And i said: i see you too.

Familiar with that? yes, simple words taken from Avatar movie.

It was about connection. Cosmic connection?

See. Feel. Yes, sometimes connection can happens without a word.
You can see it. You can feel it. You just knew it. Universe send you messages with intangible words. Like in a middle of nowhere you see things and you dream about it and suddenly it’s there. Is it a law of attraction, or what?

I have this cosmic connection. It’s amazing. Yet it’s a strange thing. Perfectly strange condition. Beautifully strange connection. Perfectly perfect.

ms. vivian maier

‘my life is none of your business.. ‘

positive attitude in action

Healthy self-esteem and positive self-talk are the spiritual needs of happiness and life success.
It brings us joy. The necessary nutrient for joy is attitude.
Positive attitudes to me are like nourishment to the body, mind and soul. The right attitude can carry us through the worst days in daily life.
On the other hand, negative attitudes are absofuckinlutely poisonous to the body.
Any chance for happiness can be suffocated by negativism. Negative thinking patterns can actually lead to physical illness and emotional destitution.

Does that sound exaggerated? I don’t think so, because if you guys check on the internet or any literature, you will find that science now has the link. The keyword is endorphins.

As you know, you are in charge of your life. You are in control of your attitude.
It’s not your parents, your husband/wife, your boss, the breaks that create your attitude.
It’s you.
How you think and how you react is totally up to you.
Looking for bad things to happen can actually make them happen. People with negative attitudes generally expect such situations as losing friends, losing a job, bankruptcy, unpleasant working conditions and failure. Pessimists expect to feel bad and get sick, so they do.

So wake up happy, say alhamdulillah or thank god for how grateful you are.

Optimism is a learned attitude. Stay thinking positively early in the day.
And if the alarm sets my nerves jangling, i wake up to music. Sometimes i avoid listening to morning news, it’s invariably depressing.
Listen instead to an all-music radio station or my favorite playlist on the ipod on my way to work.

Try to make today the best day possible. That’s the joy of life.

what love is

‘So when you ask what love is, you may be too frightened to see the answer. It may mean complete upheaval; it may break up the family; you may discover that you do not love your wife or husband or children – do you? – you may have to shatter the house you have built, you may never go back to the temple.
But if you still want to find out, you will see that fear is not love, dependence is not love, jealousy is not love, possessiveness and domination are not love, responsibility and duty are not love, self-pity is not love, the agony of not being loved is not love, love is not the opposite of hate any more than humility is the opposite of vanity.
So if you can eliminate all these, not by forcing them but by washing them away as the rain washes the dust of many days from a leaf, then perhaps you will come upon this strange flower which man always hungers after.’

Jiddu Krishnamurti

being a mother is an attitude, not a biological relation

Beberapa minggu lalu saya sempat membaca sebuah headline di koran yang dijajakan oleh tukang koran jalanan di perempatan lampu merah, seorang ibu menganiaya anak balitanya sampai patah tulang lengan dan kaki.
Saat membaca headline itu saya mendadak mual.
Diam sejenak dan menarik nafas dalam-dalam berharap agar emosi saya cepat stabil. Tapi sayang, satu kalimat di koran itu sudah terlanjur membuat airmata saya meleleh.

Saya tidak pernah habis pikir kalau ada orang tua, apalagi ibu, bisa menyiksa anak-anaknya. Anak yang lahir dari rahimnya, terbentuk dari darah dan dagingnya. Bagaimana mungkin bisa?
Yang membuat saya menangis adalah jika membayangkan bagaimana impact atau trauma apa yang akan terjadi pada si anak setelah mengalami penyiksaan dari orangtuanya, apalagi dari seorang ibu.

Apakah dia akan membenci ibunya hingga sanggup untuk membalas dendam suatu ketika nanti?
Apakah dia akan takut dan menjadi sangat menuruti apa pun yang dikatakan dan diperintah ibunya, sehingga tidak penting lagi untuk membuka mata dan hati terhadap sekelilingnya?
Apakah dia akan menjadi bungkam dan numb terhadap kehidupan yang masih panjang yang harus dia jalani?
Apakah dia akan menjadi seorang psikopat, yang tampak baik di luar sementara jiwa nya siap membantai apa pun secara kejam?
Apakah dia hanya akan totally menjadi gila, tidak waras, dan harus menghabiskan sisa hidupnya di satu sudut rumah sakit jiwa?

Penyiksaan adalah tindakan kriminal.
Terhadap siapa pun atau dalam bentuk apa pun itu. Ke anak, ke orang tua, ke orang lain, ke hewan, ke tumbuhan, ke lingkungan, ke diri sendiri.
Pasti memiliki dampak serius.

Penyiksaan tidak melulu bentuknya selalu fisik. Justru banyak sekali trauma-trauma kecil yang terakumulasi karena bentuk penyiksaan secara verbal.
Kadang kita sebagai orangtua, terutama ibu, sering menggunakan ancaman agar anak bisa secara instant menuruti apa yang kita inginkan. Seperti misalnya: kalau raport kamu sampai ada angka merah, kamu tidak boleh keluar rumah buat main sama teman-teman selama sebulan, no TV, no playstation, no gadget. Atau: ayo dihabisin makannya, kalau gak habis nanti kamu dibawa sama nenek sihir. Atau: kamu bukan anak mama kalau kamu gak nurutin apa kata mama.
Ancaman-ancaman kecil yang sering kali tanpa kita sadari kita lakukan dan memiliki potensi untuk membuat anak menjadi tidak feeling secure bersama orangtuanya, terutama ibu.

Pernahkah ada benda kesayangan kita yang dirusak secara tidak sengaja oleh anak dan kemudian kita memarahinya habis-habisan atau bahkan sampai main fisik (mencubit, memukul atau tindakan kasar lainnya)?

Seorang teman perempuan saya tahun lalu sering sekali intens cerita tentang anaknya. Bagaimana si anak membenci ayahnya atau suaminya itu dan hal tersebut membuat dia merasa tidak nyaman berada dalam rumahnya sendiri. Ternyata kebencian anaknya bermula dari saat dia tidak sengaja mematahkan spion mobil BMW kesayangan ayahnya karena terlalu kencang bermain roller blade di parkiran depan rumah. Spion patah dan sedikit baret pada body mobil.
Suaminya sangat marah dan mengurung anaknya di kamar mandi sampai anaknya nangis jejeritan pun tidak digubris.
Sejak itu, si anak merasa bahwa ayahnya lebih cinta kepada BMWnya daripada dirinya.
Teman saya, ibu dari si anak itu, sampai datang ke psikolog untuk meminta solusi atas trauma yang dialami anaknya.

Anak itu titipan. They are gift.
Ada peranan kita dalam kehadiran mereka di dunia ini.
We have to treat them well, bukan hanya dengan support materi dan fasilitas terbaik, justru yang terpenting adalah support cinta dan kasih sayang.
Itu yang selalu saya ingatkan pada diri saya sendiri ketika saya harus menghadapi situasi-situasi daily seputar parenting yang menguji kesabaran dan kebijaksanaan saya sebagai ibu bagi Ulan dan Al.
Jangan jadikan anak-anak sebagai pelampiasan ego dan keinginan masa kecil kita yang tidak terwujud.
Jangan siksa mereka dengan perkataan atau fisik yang bisa menyakitkan dan menorehkan luka trauma di jiwa mereka.
Karena jika kita lakukan itu, artinya kita sedang mendidik dan mengarahkan anak-anak kita menjadi seorang monster.

Selamat Hari Ibu.

*to my dear Al, happy birthday sayang.. you are God’s greatest gift for me on this mother’s day.

give us a little love

i really like people’s expressions and gestures..


[fallulah]

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr