Category Archives: case

Oca amarlis

‘If we are serious about combating selfishness and promoting compassion in the world, then is it not vital that we develop the tools of intellectual self-defense to deal with these assaults on our minds and hearts? The solution must lie in reversing the priorities, in subordinating dead things—money, capital, profits— to life: people, animals, the planet.’
[David Edwards – Life or Death]

a magical morning

Oca amarlis

Dari kecil gue paling suka pelangi.
Dulu, setiap habis hujan dan langit masih cerah, pasti gue bakal nyari tempat paling tinggi atau kalau di pas lagi di rumah gue akan langsung naik ke atas genteng sekedar buat nungguin kalau-kalau ada pelangi di langit.
Bisa sampai 15 menit gue tungguin, paling sedih kalau udah ditungguin tapi gak keluar pelanginya.
Sampai sekarang pun, masih suka ngejar pelangi.
Pernah waktu ngantor di Y&R Indonesia di Menara Jamsostek, sampai keluar dari ruang meeting gara-gara ada yang teriak di luar ruangan ‘look, ada pelangi!’ dan gue bilang sama orang-orang di meeting room gue mau ke toilet, padahal gue ke lantai 9, outdoor area, bengong di sana ngelihat pelangi. Duh, senangnya minta ampun.

Yes, i do really love rainbows and their beauty.

Pelangi buat gue bukan cuma indah, dia  bukan cuma sederet lengkungan warna-warni.
Entah kenapa, dari kecil kalau setiap habis nangis berkepanjangan atau kalau lagi sedih-sedihnya, pasti dikasih liat pelangi sama Tuhan. Hehehee.. Allah tuw baik banget. Selalu tau cara menghibur gue.
I believe that it was God telling me that I would never have to go thru that particular sadness that I remembered, faced & dealt with again in my life time.
Then I feel so special & loved.
Dengan melihat pelangi secara langsung, gue bisa merasa langsung punya energy lebih, pure positive energy, blessings. To me it’s the perfect time to be grateful for all the gifts in my life.

Pagi hari, di hari pertama di tahun yang baru ini, sekitar 8am, matahari baru mulai kelihatan dari balik awan yang sedikit kelabu karena hujan yang gak habis-habisnya sejak semalam, gue dikasih sebuah luxurious moment sama Tuhan. I saw a rainbow! Not only one rainbow, it was a double rainbow!!
I felt something extremely powerful from it, double harvest and double blessings!

Gue beranggapan bahwa itu sweet surprise dari Tuhan buat gue di awal tahun baru, karena 3 hari sebelumnya gue bikin wishlist dan seeing a rainbow after the rain is one of the item on the list.
Gue berasa pengen nangis senangis-nangisnya waktu dikasi liat double rainbow itu. What a wonderful magical moment.

That was my first spiritual story in 2015.
Hope everything good will happen in the future.
Aamiin!

And here I would like to wishing you all a Happy New Year with hope that you will have many blessings in the year to come.

[When double rainbows appear it means that whatever is coming to you has great meaning in your life and that one good thing will lead to another good thing. I really rejoice in your happiness and good fortune. The rainbows are a sign from the cosmic universe that you are about to have something great fall into your lap! – Lillian Too of Feng Shui Malaysia]

economy 101 ;)

really a clear and simple explanation of how the economy works, 30 minutes well spent.

a meow massages the heart

Sedikit bicara tentang kucing.
Entah kenapa tiba-tiba saya berpikir menulis mengenai kucing. Mungkin gara-gara belum lama ini saya digosipin hamil padahal yang hamil itu kucing saya. Tapi keguguran. Iyalah keguguran, belum satu tahun umurnya, kandungannya masih hijau. Mungkin itu adalah hasil dari hubungan syahwat pertamanya, dengan seekor kucing hitam punya tetangga yang suka main ke rumah.

Tapi tahu gak sih kalau pemerkosaan tidak pernah terjadi dalam dunia perkucingan? Musim birahi dipicu oleh kelenjar betina. Pada musim birahi ini kita akan sering melihat kucing jantan akan bertarung di antara sesamanya. Dalam setiap perkelahian antar kucing jantan, kucing betina lah yang memutuskan siapa yang akan mendapat giliran pertama untuk menyetubuhinya. Dan semua dapat giliran. Sabar saja, semua kebagian.

Saya suka kucing betina. Saya suka dengan fakta bahwa kucing betina lah yang menentukan dengan kucing jantan mana ia akan ‘berbuat’. Representasi dari sebuah power yang sungguh seksi.
Buat saya, kucing memiliki banyak cerita. Mulai dari cerita kalau kucing itu adalah makhluk jahat, seperti Cat Woman yang jadi musuhnya Batman dan tentang kucing setan yang selalu bawa sial, atau cerita tentang kucing jail dan tricky seperti Jerry pada kartun Tom & Jerry, kucing pemalas tapi super hero seperti Garfield sampai ke kucing yang sok imut seperti Hello Kitty. Kucing juga banyak dipakai untuk memberikan makna dalam sebuah kata atau kalimat. Seperti malu-malu kucing yang artinya malu-malu padahal mau banget, atau jangan beli kucing dalam karung yang yaaaah kita tahulah maksudnya apa, bahkan orang bule juga memakai istilah si pussy untuk menggantikan kata vagina.

Oke, lantas apa yang manusia bisa pelajari tentang kucing tadi? Tentang kucing yang tidak pernah memperkosa, tentang kucing yang selalu malu-malu tapi ternyata nafsu, tentang beli kucing dalam karung.

Sesungguhnya dalam setiap hubungan syahwat pertama, manusia seperti membeli kucing dalam karung. Seperti berjudi. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan mendapatkan sesuatu atau tidak. Kalau pun dapat, akan dapat seperti apa, sebesar apa? Ada ungkapan naif yang mengatakan kalau tidak karena cinta maka kita tidak akan rela bersedia menyerahkan diri untuk dinikmati oleh orang lain. Bullshit. Cinta itu take and give. Bukan give melulu. Pasrah, karena cinta? Padahal dalam hati berharap lebih. Itulah malu-malu kucing. Jadi apa bedanya dengan gambling? Dalam setiap gambling ada ketidakpastian, ada pertarungan emosi dan pikiran. Ada rasa ingin berkuasa. Rasa ingin menang. Ya seperti hal nya kita sedang bertarung.

Apakah salah jika saya bilang berhubungan syahwat itu seperti bertarung? Saling mengadu taring, mengasah cakar. Mengejar dan menghajar, bertubi-tubi. Menjajah dan menjelajah. Dan buat saya, setiap pertarungan yang bermutu, adalah ketika masing-masing bertarung untuk jadi pemenang. Walau kadang di satu waktu kita kalah, di lain waktu kita menang, bukan untuk kemudian diumumkan siapa yang menang dan yang kalah tapi ini lebih ke menjajal bentuk keseimbangan dalam sebuah momentum kenikmatan yang paling sebentar. Yang terpenting dalam setiap pertarungan adalah proses belajar. Belajar untuk megetahui sebuah aksi, reaksi dan sensasi. Kira-kira seperti itu.

Jadi belajarlah dari kucing. Kucing jantan yang selalu bertarung untuk mendapatkan apa yang ia ingin, kucing betina yang tidak pernah mengenal malu-malu kucing untuk bisa dengan fair memberikan kesempatan pertama bagi kucing jantan yang menang bertarung.

Mengutip Abraham Lincoln: ‘no matter how much cats fight, there always seems to be plenty of kittens.’

 

re-post: don’t take no for an answer

You know what, Oca..
One day we had been pitching for a sizable and important account.
We were in competition with 3 other big companies.
For almost three weeks we worked on our campaign.
Then at 5 pm one Wednesday evening we were told we were not on the shortlist of 2.
The client gave reasons why.
Normally we say, well tough, on to the next one. Not this time.
I went to our chief executive and said,
‘Call the client to tell him that we have another campaign prepared. Say you’ll be in his office with it at 9 am tomorrow morning’.
We didn’t have another campaign.
But by 8 am the next morning we had a completely new concept addressing the negatives he had found in the first one.
At 9 am it was presented.
On Friday evening we heard we had won the business.
It was a good weekend.
….

*as told by one of the well known multinational CCO in Jakarta – 2005

antara Tuhan dan saya

Anak-anak itu tidak lagi memiliki ibu dan ayah hingga harus mencari makan di jalan, apa yang akan orang dewasa lakukan untuk mereka?
Kasihan.
Mungkin itu yang sering terucap ketika melihat mereka.
Dan rasa kasihan seolah akan hilang ketika tangan ini memberi mereka  selembar atau sekeping logam rupiah ala kadarnya.

Begitu banyak anak-anak seperti itu di sana, dan apa yang sudah kita berikan kepada mereka?
Mungkin bukan kita, tapi saya.
Apa yang sudah saya lakukan untuk mereka? Apa yang sudah saya berikan kepada mereka?

Betapa inginnya saya membawa mereka ke rumah, bukan untuk sekedar memberi makan dan tempat berteduh, tapi lebih.
Saya mau menyayangi mereka.
Membimbing dan mengayomi, sebagaimana seorang ibu bagi mereka.
Setiap melihat anak-anak jalanan ini di luar sana, banyak sekali hal muncul di kepala saya dan tidak jarang secara mendadak air mata menitik di pipi saya.
Ingin rasanya bisa ngobrol sama mereka, mengajak mereka bermain, memberi mereka usapan di kepala atau bahkan memeluk mereka dengan harapan bisa menguatkan hati mereka.
Do’a selalu terkirim untuk mereka. Selalu, tak pernah putus.
Mudah-mudahan Tuhan menjaga mereka untuk tetap berada di jalan kebenaran dan selalu dilimpahi kebahagiaan.

Saya pernah berjanji waktu SMA dulu, dan masih tetap saya pegang janji saya itu. Saya akan berikan apa yang sanggup saya berikan untuk mereka.
Waktu saya, pikiran saya, tenaga saya, cinta saya.
Saat ini saya sedang berjuang. Berjuang untuk janji itu.
Itu hutang saya.

Dan sebelum saya mati besok, sudah harus jadi kenyataan.
Atau akan menjadi warisan untuk Ulan dan Al.
Paling tidak, sudah tersampaikan paradigma dan keinginan ini ke Ulan.
Saya senang bahwa Ulan siap mewujudkan janji saya jika memang saya benar-benar harus mati besok.

Mendengar Ulan berkata: ‘aku senang kalau bisa membantu dan aku mau jadi baik seperti ibu’ saja sudah memberi tambahan energy untuk bisa memperjuangkan janji saya.
Waktu itu saya menjawab: kamu harus jadi lebih baik dari ibu.
Dia tersenyum, dan mengangguk.

Tuhan, please bantu saya.
Bantu kami.

hidup itu pilihan?

Apakah benar hidup itu sebuah pilihan? Pilihannya siapa? Siapa yang memberikan pilihan? Pilihan antara apa dengan apa? Adakah di antara kita yang memilih untuk hidup jauh sebelum kita dikatakan hidup?

Apakah anak-anak terlantar di pinggir Jalan Sabang yang saya lewati kemarin itu punya pilihan untuk bisa dilahirkan oleh orang tua yang berkecukupan ketimbang oleh orang tua yang saking miskinnya hingga memutuskan untuk membuang anak mereka di dekat tempat sampah?

Apakah seorang laki-laki bisa memilih untuk dilahirkan menjadi perempuan ketimbang berkelamin laki-laki namun kemudian memutuskan untuk melakukan operasi pembesaran payudara ketika ia dewasa?

Jadi hidup itu pilihan? Atau hidup itu sebuah ketentuan?

Kalau iya, hidup itu sebuah pilihan, jangan-jangan apa yang kita jalani selama ini harus dipertanyakan lagi, siapa tahu masih ada pilihan-pilihan lain yang lebih baik?

Atau kalau memang hidup adalah sebuah ketentuan, apakah kita cukup rela menjalani ketentuan itu?

a bit about me and photography


Membentuk Mental Tangguh dengan Fotografi

Oleh Mardiana Makmun| Selasa, 5 Februari 2013 | 13:36

OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communication. Foto: Dok Pribadi
OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communications. Foto: Dok Pribadi

Hobi fotografi sudah merasukinya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Oca Amarlis pun makin menikmati hingga menjadikannya sebagai media untuk beramal dan proses menjadi seorang yang tangguh.

Wajah ceria anak-anak pedagang asongan di objek wisata Danau Batur, Bali, mencuri perhatian di pameran foto yang digelar Komunitas iDL, baru-baru ini. “Ini foto saya,” kata Oca Amarlis, sang fotografer kepada Investor Daily. “Foto ini saya ambil waktu ke Danau Batur, Bali. Saya lihat wajah mereka gembira sekali sembari mengobrol hasil penjualan hari itu,” lanjut Oca, humas Komunitas iDL.

Bukan kali ini saja Oca berpameran, tahun 2011 dan 2012, bersama komunitasnya, ia juga memajang karyanya. “Foto-foto itu dilelang dan hasilnya untuk disumbangkan. Tahun lalu kami menyumbang untuk operasi katarak gratis. Tahun ini karena tema pameran anak-anak, kami akan sumbang untuk membantu biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu,” kata Oca.

Oca pun bercerita, dunia fotografi ternyata mengajarkan banyak hal kepadanya, termasuk berbagi kepada orang lain dengan menyumbangkan hasil penjualan foto pameran. Sebuah kebanggaan pun ia rasakan, saat fotonya laku terjual dan dikoleksi kolektor foto.

Selain itu, foto mengajarkan sensitivitas dalam membaca sebuah kondisi, fokus terhadap subjek/objek, melatih kesabaran, dan harus punya rencana taktis untuk bisa tepat dalam membidik agar tidak kehilangan momentum. “Prosesnya itu membentuk mental tough dengan tetap memakai perasaan dan insting,” jelas perempuan yang juga gemar menulis, membaca, memasak, dan nonton film.

Kamera Ayah.
Oca menuturkan bagaimana awalnya ia menyenangi fotografi. Saat duduk di bangku SMP, Oca remaja senang bermain-main dengan kamera ayahnya. “Dulu masih pakai kamera film, banyak film yang gosong, tapi justru jadi penasaran. Selain itu, saya suka lihat foto-foto yang meaningful, yang ketika saya melihatnya mampu memberi kesan tersendiri. Bisa jadi bikin tersenyum atau malah berpikir, yang mampu menggerakkan hati dan pikiran atau mampu memberi ketenangan,” tutur Oca. Secara teori, teknik fotografi ia dapatkan saat ikut klub fotografi SMA 3, STIFOC. Selebihnya ia belajar otodidak, mengandalkan feeling. Objek yang disukainya adalah human interest dan benda-benda mati. “Saya rasa kedua objek itu bisa lebih bicara kalau tertangkap kamera,” kata Oca yang ke mana pun pergi selalu membawa kamera. Keterampilannya memotret makin terasah ketika bergabung dengan komunitas pengguna kamera Leica bernama Komunitas iDL yang didirikan Jerry Justianto. Awalnya, anggotanya cuma datang untuk ngumpul-ngumpul dan makan-makan ketimbang motret bareng. “Dulu waktu pertama-tama ngumpul justru belum pakai kamera Leica. Tapi karena teman-teman iDL asyik dan baik-baik, mereka welcome, sehingga membuat saya nyaman dan tergerak untuk tahu lebih banyak lagi tentang hasil foto dengan kamera ini,” cerita Oca.

Untunglah, Oca tak banyak menemukan kesulitan ketika pindah ke Leica X1. “Enggak terlalu banyak kesulitan, hanya sedikit kurang responsif saja dibandingkan kamera pocket atau SLR. Pakai Leica, harus pakai perasaan dan sabar, tapi output quality-nya enggak kalah sama SLR. Waktu nyoba seri M, rangefinder, kesulitannya lebih terasa. Enggak akan bisa zoom karena lensanya fix semua dan fokusnya yang manual membuat mata kita yang memegang peran utama dalam penentuan titik fokus,” jelas Oca yang sudah 10 tahun berkarier di bidang periklanan.

Bicara pekerjaannya, Oca mengatakan, banyak sekali tantangan di bidang periklanan, terutama di area people dan deadline. “Bagaimana kita setiap hari harus bisa dealing secara harmonis dengan orang lain, baik itu dengan internal team, client, pihak ketiga, partner kerja, dan sebagainya. Memperbesar skala bisnis juga menjadi challenge tersendiri yang enggak kalah menantang,” ujar Oca.

http://www.investor.co.id/home/membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi/53972
http://www.beritasatu.com/figur/95333-oca-amarlis-membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi.html

Q&A

Can’t sleep. Something in mind. So i browse. Everywhere, anything. Trying to find another distraction from my current sweetest distraction. Look what i got. A q&a list, from tumblr. Let’s give it a try. Seems fun. And i’m trying to be honest here. Ok, let’s start. 

  1. Tell me the truth, what made you start liking the person you like right now? my instinct
  2. What on your body is hurting or bothering you? my neck, wrong sleep position last night
  3. What was your last thought before going to bed last night? his name
  4. What are you listening to? right now? katie melua song: no fear of heights
  5. What’s something you’re not looking forward to? sad and bad news  
  6. Where do you think your best friend is right now? in my mind
  7. Have you kissed anybody in the last 5 days? yes. of course!
  8. Sex on the first date? hmm.. my dad will kill me then
  9. Kiss on the first date? could be, depends on the person
  10. Is there one person you want to be with right now? yes yes yessss!
  11. Are you seriously happy with where you are in life? maybe
  12. Is there something you would like to say to someone? yea: i miss you like hell
  13. What are three things you did today? thinking, thinking and thinking
  14. Would you rather sleep at a friend’s or have them over? can’t decide
  15. What is your favorite kind of gum? chewing gum is the best
  16. Are you friends with any of your ex boyfriends/ girlfriends? elaborate the word friends please..
  17. What is on your wrists right now? nothing, just skin, naked wrists
  18. Ever liked someone you thought you didn’t stand a chance with? yea..
  19. Does anyone have strong feelings for you? i dunno, how do i know
  20. Are you slowly drifting away from someone? depends
  21. Have you ever wasted your time on someone? yea, i had
  22. Can you do the alphabet in sign language? only to say i love you, yes
  23. How have you felt today? have beautiful feelings yet painful
  24. You receive $60 without any reason, what do you spend it on? wont spend it, will give it to other people who need it the most
  25. What is wrong with you right now? everything is wrong yet so right
  26. Is there anyone you’re really disappointed in? yea, someone.. maybe
  27. Would you rather have Starbucks or Jamba Juice right now? neither
  28. Why aren’t you in ‘love’ with your last ex anymore? why??? oh please, don’t be stupid!
  29. How late did you stay up last night and why? until 5am, thinking everything til nothing
  30. When was the last time you talked to one of your best friends? yesterday
  31. What were you doing an hour ago? escape in a digital world, was touching the keyboards, made love to the screen, like now
  32. What are you looking forward to in the next month? a new business, new accounts, bigger profits
  33. Are you wearing jeans right now? are you crazy, wearing jeans at this hour on the bed? no
  34. Are you a patient person? some closest friends said yes, but i’m not so sure
  35. Do you think you can last in a relationship for 3 months? yea, who knows?
  36. Favorite color? always black
  37. Did you have a dream last night? yea, as always
  38. Are you wearing jeans, shorts, sweatpants, or pajama pants? tanktop + shorts
  39. If someone could be cuddling you right now, who would you want it to be? hmm.. my 8ball
  40. Do you love anyone who is not related to you? tough one, can’t answer
  41. If someone liked you right now, would you want them to tell you? yea, it’s a free country
  42. Do you like meeting new people? for some reasons, yes.. sometimes
  43. Are you afraid of falling in love? a bit
  44. Ever liked someone older than you? hahahahaaa… absolutely laaa..
  45. Has anyone ever told you that you have pretty eyes? hmm
  46. Have you ever felt like you weren’t good enough? most of the time, i’m a perfectionist, that’s annoying sometimes
  47. What is your expectation right now? rainy night with him beside me
  48. Can you tell us about yourself? beautiful people do not just happen
  49. Who is the perfect person in this world? nobody’s perfect
  50. Mars or Venus? #LV 🙂
That’s it? Oh my, i still can’t sleep.

saya dan manusia lainnya

[Video Footages & Photography by Diego Verges]

Antara saya dan manusia lainnya.

Menjadi saya dengan gender buatan ini tidak mudah, serasa ada di dua dunia. Dunia realita dan wanita. Memiliki sosok dan hardware laki-laki namun memiliki sifat, karakter dan cara hidup seperti wanita. Identitas yang seringkali mendapat stigma negatif dari masyarakat, bahkan keluarga sendiri.

Antara saya dan manusia lainnya, sesungguhnya tiada beda. Saya menghirup udara yang mereka hirup. Saya makan dari alam tempat mereka hidup. Saya tidur di bawah langit hitam, mereka juga. Saya pun bisa merasakan jatuh cinta, sama seperti mereka. Sama-sama punya hati. Sama-sama punya Tuhan.

Saya juga bersusah payah mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga yang masih mau menganggap saya, tiada beda dengan mereka, hanya saja saya harus bekerja jauh lebih keras beberapa kali lipat karena belum apa-apa sudah harus mengeluarkan energi ekstra untuk mengeraskan mental dari cemoohan dan makian orang banyak. Saya terbiasa menerima perlakuan khusus, karena saya memang termasuk kategori orang khusus.
Orang khusus. Orang special. Karena saya laki-laki, tapi saya memiliki hasrat untuk terlihat cantik, indah dan bersikap lembut.
Karena saya laki-laki dengan naluri wanita. Saya sepenuhnya hidup dengan melanggar norma. Tapi ini bukan mau saya. Saya hanya ingin hidup nyaman, menjadi diri sendiri, tanpa perlu berpura-pura sampai mati.

Antara saya dan manusia lainnya, semoga bisa baik-baik saja.

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr