Category Archives: habit

my april playlist

50 songs on the track:

The Second You Sleep – Saybia
Stay With Me – Sam Smith
Crazy Love – Brian McKnight
Lost Stars – Adam Levine
Gerangan Cinta – Soulvibe
Not a Bad Thing – Justin Timberlake
I Will Never Let You Down – Rita Ora
Haunted – Beyonce
I Put a Spell On You – Annie Lennox
Team – Lorde
No.1 Party Anthem – Arctic Monkeys
Summertime Sadness – Lana Del Rey
F For You – Disclosure ft. May J. Blige
Stay Awake – Carousel
The Heart Wants What It Wants – Selena Gomez
Ghost [switch remix]- Ella Henderson
Dekat Di Hati – RAN
Same Love – Macklemore ft.Ed Sheran & De Hofnar
Where You Belong – The Weeknd
Blank Space – Taylor Swift
One Last Night – Vaults
Miracles – Coldplay
XO – John Mayer
Tell Me If You Wanna Go Home – Keira Knightley
Perempuan Dalam Pelukan – Payung Teduh
Thinking Out Loud – Ed Sheeran
Gravity – Sara Bareilles
Man In the Mirror – James Morrison
Grow Old with Me – Tom Odell
Sweetest Gift – Sade
Falling Awake – Gary Jules
My Baby You – Marc Anthony
Sedetik Lebih – Anuar Zain
Stay the Same – Joey Mcintyre
Almost Is Never Enough – Ariana Grande
Somewhere Only We Know – Lily Allen
Stay Alive – Jose Gonzalez
Falling In Love At a Coffee Shop – Landon Pigg
Today Has Been Ok – Emiliana Torrini
Not Going Anywhere – Keren Ann
Closer – Joshua Radin
Nothing Last Forever – Maroon 5
Satellite – Dave Matthews Band
Cruisin – Sioen
By Your Side – Sade
Crazy In Love [Fifty Shades of Grey Remix] – Beyonce
Sempurna – Andra & The BackBone
Marry Me – Train
I’d Rather be With You – Joshua Radin
The Man Who Can’t Be Moved – The Script

Oca amarlis

‘If we are serious about combating selfishness and promoting compassion in the world, then is it not vital that we develop the tools of intellectual self-defense to deal with these assaults on our minds and hearts? The solution must lie in reversing the priorities, in subordinating dead things—money, capital, profits— to life: people, animals, the planet.’
[David Edwards - Life or Death]

a magical morning

Oca amarlis

Dari kecil gue paling suka pelangi.
Dulu, setiap habis hujan dan langit masih cerah, pasti gue bakal nyari tempat paling tinggi atau kalau di pas lagi di rumah gue akan langsung naik ke atas genteng sekedar buat nungguin kalau-kalau ada pelangi di langit.
Bisa sampai 15 menit gue tungguin, paling sedih kalau udah ditungguin tapi gak keluar pelanginya.
Sampai sekarang pun, masih suka ngejar pelangi.
Pernah waktu ngantor di Y&R Indonesia di Menara Jamsostek, sampai keluar dari ruang meeting gara-gara ada yang teriak di luar ruangan ‘look, ada pelangi!’ dan gue bilang sama orang-orang di meeting room gue mau ke toilet, padahal gue ke lantai 9, outdoor area, bengong di sana ngelihat pelangi. Duh, senangnya minta ampun.

Yes, i do really love rainbows and their beauty.

Pelangi buat gue bukan cuma indah, dia  bukan cuma sederet lengkungan warna-warni.
Entah kenapa, dari kecil kalau setiap habis nangis berkepanjangan atau kalau lagi sedih-sedihnya, pasti dikasih liat pelangi sama Tuhan. Hehehee.. Allah tuw baik banget. Selalu tau cara menghibur gue.
I believe that it was God telling me that I would never have to go thru that particular sadness that I remembered, faced & dealt with again in my life time.
Then I feel so special & loved.
Dengan melihat pelangi secara langsung, gue bisa merasa langsung punya energy lebih, pure positive energy, blessings. To me it’s the perfect time to be grateful for all the gifts in my life.

Pagi hari, di hari pertama di tahun yang baru ini, sekitar 8am, matahari baru mulai kelihatan dari balik awan yang sedikit kelabu karena hujan yang gak habis-habisnya sejak semalam, gue dikasih sebuah luxurious moment sama Tuhan. I saw a rainbow! Not only one rainbow, it was a double rainbow!!
I felt something extremely powerful from it, double harvest and double blessings!

Gue beranggapan bahwa itu sweet surprise dari Tuhan buat gue di awal tahun baru, karena 3 hari sebelumnya gue bikin wishlist dan seeing a rainbow after the rain is one of the item on the list.
Gue berasa pengen nangis senangis-nangisnya waktu dikasi liat double rainbow itu. What a wonderful magical moment.

That was my first spiritual story in 2015.
Hope everything good will happen in the future.
Aamiin!

And here I would like to wishing you all a Happy New Year with hope that you will have many blessings in the year to come.

[When double rainbows appear it means that whatever is coming to you has great meaning in your life and that one good thing will lead to another good thing. I really rejoice in your happiness and good fortune. The rainbows are a sign from the cosmic universe that you are about to have something great fall into your lap! – Lillian Too of Feng Shui Malaysia]

my reali-tea

happy lazy sunday..

ocaamarlis

source: pinterest

kenapa suka pisau?

Beberapa orang bertanya hal yang sama.
Jawaban saya adalah kenapa tidak? ;)

Oke, serious now, saya suka pisau sejak saya lulus sekolah dasar.
Sejak saya harus mulai rutin membantu ibu saya di dapur setiap Minggu pagi.
Entah kenapa, ada saat ketika saya mengamati ibu saya mengiris bawang tipis-tipis, memotong kasar daun sawi dan menguliti kentang, membuat perasaan dan pikiran saya agak galau. Antara kengerian karena khawatir jemari ibu saya ikut teriris dengan kenikmatan mendengar suara yang ditimbulkan dan melihat hasil cacahan yang bisa begitu simetris dan sama besar. Paling takjub kalau melihat ibu saya sanggup mengupas kulit mangga dengan irisan super tipis yang melingkar utuh tidak terputus.
Oh waw, artsy banget! Hahahaa…

Tapi beneran deh, itu adalah moment awal perkenalan intens saya dengan pisau. Tugas awal saya dulu adalah memotong bayam dan mengiris wortel. Susah nggak? Nggak sih, tapi jari telunjuk kiri sering kena iris.
Sejak saat itu, saya dendam sama pisau. Pokoknya saya harus bisa menguasai dia. Apa pun bentuknya. Dari pisau dapur yang kecil, sedang sampai besar yang biasa buat motong ayam utuh.

Semakin bertambah usia saya semakin besar juga minat saya terhadap pisau. Saya mulai melirik pisau lipat. Kecil, tipis, runcing dan pastinya tajam. Ada satu pisau yang sampai sekarang saya masih belajar untuk bisa memainkannya, yaitu jenis balisong atau butterfly knife.
Gila, susah banget. Sudah tersayat beberapa kali tetap saja belum bisa-bisa.
Please kalau ada yang jago mainin balisong, email saya yaaa, pengen belajar privately.

Jadi alasan awal sukanya cuma karena dendam pernah tersayat pisau? Bukan. Tapi karena saya terlanjur jatuh cinta sama kilatan mata pisau, that glowing silver sharp line. It had me at ‘let’s get hurt’. Saya jatuh cinta karena efek sensasi yang terjadi ketika saya melihat kilatan pisau, ada misteri di sana, ada dilema yang terjadi, ada ketidakpastian sekaligus kepastian, ada kewaspadaan yang luar biasa tercipta, bikin deg-deg-an sekaligus terasa aman.

Aneh? Mungkin. Beberapa orang dekat saya bilang saya perempuan aneh karena suka koleksi pisau sementara banyak perempuan lainnya lebih suka koleksi tas hermes atau sepatu louboutin. Saya sih ketawa aja, ya saya khan mampunya cuma beli pisau, bukan tas hermes, hihihiii..
Koleksi saya gak banyak, karena selain susah dapat jenis pisau lipat yang simple, tajam dan classy tetapi juga karena saya punya kebiasaan kalau jalan jauh sendirian suka bawa salah satu pisau-pisau itu yang kadang saya suka lupa meletakkannya dalam bagasi sehingga sering disita sama pihak security saat boarding di bandara.
Ada dua pisau kesayangan saya yang terselamatkan karena saya ngotot minta tolong agar pisau saya tidak ditahan di bandara, waktu saya ke Nepal saya titipkan di pilotnya dan saya ambil kembali saat mendarat. Pheeww, puas banget!

Dan buat saya, perempuan seksi itu bukanlah perempuan yang menjinjing tas hermes atau berjalan dengan memakai louboutin, tetapi adalah perempuan dengan pisau di tangannya yang dipakai untuk mengiris bawang, memotong sayuran atau daging, mengupas buah untuk bisa diberikan ke orang yang dia cintai.

a bit about me and photography


Membentuk Mental Tangguh dengan Fotografi

Oleh Mardiana Makmun| Selasa, 5 Februari 2013 | 13:36

OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communication. Foto: Dok Pribadi
OCA AMARLIS, General Manager PT Power Brand Communications. Foto: Dok Pribadi

Hobi fotografi sudah merasukinya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Oca Amarlis pun makin menikmati hingga menjadikannya sebagai media untuk beramal dan proses menjadi seorang yang tangguh.

Wajah ceria anak-anak pedagang asongan di objek wisata Danau Batur, Bali, mencuri perhatian di pameran foto yang digelar Komunitas iDL, baru-baru ini. “Ini foto saya,” kata Oca Amarlis, sang fotografer kepada Investor Daily. “Foto ini saya ambil waktu ke Danau Batur, Bali. Saya lihat wajah mereka gembira sekali sembari mengobrol hasil penjualan hari itu,” lanjut Oca, humas Komunitas iDL.

Bukan kali ini saja Oca berpameran, tahun 2011 dan 2012, bersama komunitasnya, ia juga memajang karyanya. “Foto-foto itu dilelang dan hasilnya untuk disumbangkan. Tahun lalu kami menyumbang untuk operasi katarak gratis. Tahun ini karena tema pameran anak-anak, kami akan sumbang untuk membantu biaya sekolah anak-anak yang kurang mampu,” kata Oca.

Oca pun bercerita, dunia fotografi ternyata mengajarkan banyak hal kepadanya, termasuk berbagi kepada orang lain dengan menyumbangkan hasil penjualan foto pameran. Sebuah kebanggaan pun ia rasakan, saat fotonya laku terjual dan dikoleksi kolektor foto.

Selain itu, foto mengajarkan sensitivitas dalam membaca sebuah kondisi, fokus terhadap subjek/objek, melatih kesabaran, dan harus punya rencana taktis untuk bisa tepat dalam membidik agar tidak kehilangan momentum. “Prosesnya itu membentuk mental tough dengan tetap memakai perasaan dan insting,” jelas perempuan yang juga gemar menulis, membaca, memasak, dan nonton film.

Kamera Ayah.
Oca menuturkan bagaimana awalnya ia menyenangi fotografi. Saat duduk di bangku SMP, Oca remaja senang bermain-main dengan kamera ayahnya. “Dulu masih pakai kamera film, banyak film yang gosong, tapi justru jadi penasaran. Selain itu, saya suka lihat foto-foto yang meaningful, yang ketika saya melihatnya mampu memberi kesan tersendiri. Bisa jadi bikin tersenyum atau malah berpikir, yang mampu menggerakkan hati dan pikiran atau mampu memberi ketenangan,” tutur Oca. Secara teori, teknik fotografi ia dapatkan saat ikut klub fotografi SMA 3, STIFOC. Selebihnya ia belajar otodidak, mengandalkan feeling. Objek yang disukainya adalah human interest dan benda-benda mati. “Saya rasa kedua objek itu bisa lebih bicara kalau tertangkap kamera,” kata Oca yang ke mana pun pergi selalu membawa kamera. Keterampilannya memotret makin terasah ketika bergabung dengan komunitas pengguna kamera Leica bernama Komunitas iDL yang didirikan Jerry Justianto. Awalnya, anggotanya cuma datang untuk ngumpul-ngumpul dan makan-makan ketimbang motret bareng. “Dulu waktu pertama-tama ngumpul justru belum pakai kamera Leica. Tapi karena teman-teman iDL asyik dan baik-baik, mereka welcome, sehingga membuat saya nyaman dan tergerak untuk tahu lebih banyak lagi tentang hasil foto dengan kamera ini,” cerita Oca.

Untunglah, Oca tak banyak menemukan kesulitan ketika pindah ke Leica X1. “Enggak terlalu banyak kesulitan, hanya sedikit kurang responsif saja dibandingkan kamera pocket atau SLR. Pakai Leica, harus pakai perasaan dan sabar, tapi output quality-nya enggak kalah sama SLR. Waktu nyoba seri M, rangefinder, kesulitannya lebih terasa. Enggak akan bisa zoom karena lensanya fix semua dan fokusnya yang manual membuat mata kita yang memegang peran utama dalam penentuan titik fokus,” jelas Oca yang sudah 10 tahun berkarier di bidang periklanan.

Bicara pekerjaannya, Oca mengatakan, banyak sekali tantangan di bidang periklanan, terutama di area people dan deadline. “Bagaimana kita setiap hari harus bisa dealing secara harmonis dengan orang lain, baik itu dengan internal team, client, pihak ketiga, partner kerja, dan sebagainya. Memperbesar skala bisnis juga menjadi challenge tersendiri yang enggak kalah menantang,” ujar Oca.

http://www.investor.co.id/home/membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi/53972

http://www.beritasatu.com/figur/95333-oca-amarlis-membentuk-mental-tangguh-dengan-fotografi.html

a bit about me: my parenting style


Mengasuh Anak dengan Cara Kreatif
Penulis : Wardah Fazriyati | Jumat, 30 Agustus 2013 | 12:55 WIB

KOMPAS.com – Kreativitas merupakan life skill yang semestinya dimiliki setiap pribadi agar bisa menjawab berbagai tantangan. Termasuk menjawab tantangan orangtua dalam mengasuh anak.Seperti apa kreativitas orangtua dalam mengasuh anak? Cara Rosa Amarlis (37), General Manager Power Brand Communications (advertising agency), bisa menjadi salah satu inspirasinya.Ibu dari Wulan Tsabita Anandisa (13), dan Q Lail Anandyo (9), ini punya cara kreatif dalam mengasuh anak. Alhasil, kedua anaknya pun tumbuh sebagai pribadi mandiri, kritis, juga peka dan punya empati tinggi terhadap lingkunganya.Menurut perempuan yang akrab disapa Oca ini, cara berpikir kreatif menjadi bekal dalam menjalani apa pun.  “Kreatif itu mindset. Hidup banyak tantangan yang harus disikapi dengan cara kreatif,” ungkapnya saat berbincang bersama Kompas Femaledi Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (29/8/2013).Dengan memiliki pola berpikir keatif inilah, Oca menerapkan pola pengasuhan yang tak sama untuk setiap anak, juga berbeda dari keluarga kebanyakan. Contohnya, ritual ibu bekerja seperti menelepon anak untuk menanyakan kabar di rumah dilakukan dengan cara yang tak monoton. Alih-alih menanyakan hal biasa seperti “Sudah makan atau belum?”, “Sedang apa di rumah?”, Oca memilih pertanyaan lain yang jauh dari kesan formalitas atau membosankan.”Saya lebih suka menanyakan ke anak saya mengenai hal menyebalkan apa yang dialaminya hari itu, ketimbang sekadar memastikan kebutuhan fisiknya terpenuhi seperti sudah makan atau belum. Anak-anak juga bisa menganggap ibunya membosankan jika setiap hari menelepon hanya menanyakan soal makan misalnya. Secara fisik boleh saja oke, tapi apakah anak menderita secara mental, ini yang saya perhatikan,” ungkapnya.Menanyakan kabar anak dengan ragam obrolan berbeda setiap  harinya hanya satu dari sekian cara pengasuhan kreatif ala Oca. Selain itu, ia juga menerapkan pola pengasuhan yang edukatif namun lebih aplikatif. Misalnya, saat anak pertamanya berusia tujuh, Oca mengajak Wulan jalan kaki dari rumah di kawasan Rawamangun ke mal terdekat. Oca bukan sekadar ingin meluangkan waktu bersama, namun ia tengah membangun kemandirian anak dengan mencontohkan. Oca menceritakan bagaimana ia mencontohkan anaknya cara aman berjalan kaki di jalan raya. Apa bedanya jika berjalan di sisi kanan atau kiri. Bagaimana cara aman menyeberang. Semua pembelajaran ini diaplikasikan langsung bukan semata lewat kata.

“Saat anak saya terpisah dengan asisten rumah tangga ketika jalan di mal, anak saya tahu jalan pulang, padahal usianya baru tujuh tahun,” ungkapnya bangga atas caranya memberikan edukasi aplikatif kepada anak-anaknya.

Oca juga sering memancing anak berpikir kritis. Ia memodifikasi gaya orangtuanya dulu dalam mengasuh anak. Oca berkisah, saat kecil ia punya jadwal rutin setiap malam untuk duduk bersama sang ayah menonton siaran berita, kemudian berdiskusi bersama ayahnya. Meski setelah punya anak, Oca tak menerapkan cara yang persis sama, ia juga mengajak anak berdiskusi, mendengarkan pendapat anak, dari tontonan yang disaksikan bersama anak-anaknya, termasuk berita.

“Saya tidak mengharuskan anak saya nonton berita seperti yang dilakukan ayah saya dulu. Tapi saya memancing anak untuk kritis dengan menanyakan pendapatnya saat menonton berita bersama,” katanya.

Memulai obrolan dengan cara apa pun bersama anak menjadi kebiasaan di keluarga kecil Oca. Alhasil, berbagai topik pun kerap dibahas bersama kedua anaknya. Bahkan topik yang mendalam seperti kematian pun dibahasnya.

“Saya menyiapkan yang terburuk. Kadang saya membahas kematian, bagaimana anak-anak sebaiknya bersikap kalau ayah ibunya meninggal. Obrolan semacam ini bisa dibahas kapan saja, tak selalu menunggu momen. Apa pun bisa jadi bahan obrolan,” ujarnya.

Meski tak semua orang sepakat dengan cara Oca dalam memilih topik obrolan, termasuk sang suami, ia meyakini dengan diajak berbincang santai dan berpikir kritis, anak akan terbangun karakternya. Benar saja, Oca mengaku kedua anaknya memiliki kemandirian dan kecerdasan berpikir. Ia pun merasa diberkati, karena kedua anaknya bisa memahami kondisi orangtuanya, dan mudah untuk diberikan pengertian.

“Saat liburan tiba, kalau saya benar-benar sibuk dan tak bisa berlibur bersama anak-anak, mereka memahami dan tak lantas merengek meminta liburan. Mereka sangat mandiri dan pengertian dengan orangtuanya,” tuturnya.

Bagi Oca, pola asuh yang diterapkannya merupakan hasil pembelajaran sepanjang hidupnya. Ia mengaku merasa beruntung dibesarkan dengan situasi yang sangat dinamis, dalam keluarga yang mengalami pasang surut. Perjalanan semasa kecil hingga dewasa inilah yang membentuk pola asuh perempuan berdarah Padang dan Solo ini. Selain kemandirian dan kreativitas yang juga menjadi kunci dalam pengasuhan anak di keluarganya.

Bagaimana dengan Anda, cara kreatif seperti apa yang diterapkan dalam mengasuh anak?

Editor :
Wawa

http://female.kompas.com/read/2013/08/30/1255172/Mengasuh.Anak.dengan.Cara.Kreatif

why?

ocaamarlisSomeone asked me, why do you like to play billiard?
Hmm, perlu diam sejenak untuk menjawab pertanyaannya. Kalau mau gampang siy tinggal bilang aja kalau gue suka dan gak ada particular reasons. Tapi gak bisa. Karena sebenarnya memang ada alasan khusus.

Dalam permainan billiard, kita belajar untuk bisa tenang, fokus, berani untuk ambil keputusan cepat, mengasah orientasi ruang secara presisi, melatih akurasi shooting, to trust your instinct, to get things done with less mistakes.
Ketika sedang bermain, saat mendapat giliran memukul bola, gue hanya berpikir tentang saat itu, it’s about a now moment, bukan kemarin, bukan tadi dan bahkan bukan nanti. Sama seperti hidup, gue mencoba lebih fokus menjalani dan mencari solusi dari problem atau situasi yang terjadi saat itu juga, saat sekarang. Bukan terhadap apa yang sudah terjadi atau yang belum terjadi.

Semua hobby yang gue jalani selalu punya background alasan yang kurang lebih sama, gak pernah mau menjalani sebuah hobby yang gak bisa kasih benefit dalam perkembangan diri gue secara emosi, mental, feeling dan pikiran. That’s why i like billiards, as i also like photography, cooking and driving.

how much is too much

 

Kapan terakhir kamu bicara dengan orang lain tentang diri kamu? Tentang cerita masa lalu kamu. Tentang masa kini kamu. Tentang apa-apa yang akan kamu lakukan untuk bisa dengan segera meraih masa depan kamu.

Kapan terakhir kamu berada di depan cermin dan berlama-lama menatap wajah kamu dan mulai mencoba angle-angle tertentu yang kalau suatu saat harus kumpul bareng teman-teman terus ada yang memotret, foto kamu dengan angle andalan itu bisa lebih stands out atau paling tidak gak jelek-jelek amat? Supaya kalau fotonya diapload di semua social connecting point, kamu merasa gak jatuh pamor secara visual. Syukur-syukur justru bikin kamu tambah dipuji dan disanjung banyak orang. You want to see just how cool you are, di mata kamu dan di mata orang lain.

Kapan? Minggu lalu? Kemarin? Tadi siang? Atau baru saja?

Tentunya semua orang ingin terlihat menarik di mata siapa pun, termasuk di matanya sendiri. Semua ingin terlihat hebat. Semua ingin menjadi pusat perhatian. Semua ingin lebih menonjol di banding yang lainnya.

Apakah itu salah?

Tidak.

Sejak ada dalam perut ibu kita, kita sudah menuntut perhatian itu. Tidak berhenti sampai ketika lahir. Bahkan mungkin bertambah kompleks perhatian yang diharapkan. Aku lahir maka aku ada. Aku ada dan aku butuh perhatian.

Bagaimana kalau tidak ada satu pun orang yang memperhatikan kita? Kita akan tetap mencari cara agar orang menoleh dan menyimak kita. Via cara apa pun. Itu sudah fitrah.

Lantas kenapa dong tadi pakai nanya-nanya kapan segala? Karena dari jawaban yang keluar bisa terdeteksi apakah kita ini  narcissist skala Small, Medium, Large atau Xtra Large. Atau justru Xtra Xtra Large. Cuma kamu sendiri yang tau jawabannya apa.

Era internet dengan social media websitesnya secara sadar menumbuhsuburkan tendensi narcissistic ini. Selama digunakan dalam porsi yang wajar, menurut saya tidak masalah.

Porsi wajar? Berarti ada porsi gak wajar dong? Iya ada, porsi nya too much. How much is too much in this case? Seseorang menchallenge saya dengan pertanyaan ini. (smile)

Porsi too much adalah di mana narcissistic ini mulai melahirkan sebuah kesombongan. Keegoisan. Kesombongan membuat kita berpikir bahwa kita selalu lebih dari yang lain. Kesombongan membuat kita selalu menuntut untuk berada di bawah spot lights, di mana pun, kapan pun, dalam situasi apa pun. Keegoisan semacam ini membuat orang lain pergi. Dan justru membuat kita semakin merasa sendiri dan kesepian, dan menuntut lebih banyak lagi eksposure. Kita tidak sadar semakin addicted to narcissism.

Pertanyaan terakhir, kalau kamu melihat majalah Indonesia Tatler atau majalah serupa lainnya dan melihat foto-foto beberapa orang yang sama terus muncul di setiap edisinya dengan atribut fashion dan lifestyle yang berbeda, skala narcissistic berapa yaaa kira-kira mereka itu? Atau, kalau kamu melihat instagram saya dengan segitu banyak #selfportrait atau FB yang banyak banget stock foto profilenya, kira-kira saya masuk di porsi yang mana? Hahahhaaa..

Anyway, narcissistic sebuah naluri alami, selama sanggup dikontrol, tidak merusak mental dan kebaikan yang ada pada diri kita, go ahead lakukan dalam porsi normal. Karena terkadang dari kenarsisan yang wajar mampu memberikan inspirasi positif bagi orang banyak.

Next topic will be about sex. Another challenge… (smile) (hug)

 

karena hanya ada dua pilihan

 

 

 

 

Sekarang atau nanti. Stuck atau move on. To be or not to be.

Dilema itu penting. Berada di persimpangan itu memaksa kita untuk berpikir lebih. Pointnya adalah berani atau tidak mengambil keputusan. Berani atau tidak menjalani keputusan. Berani atau tidak dengan segala kemungkinan kenikmatan dan kesengsaraan yang kadang sering seiring sejalan mau tidak mau harus kita hadapi.

Gue teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer: ‘siapa kalau bukan aku sendiri.. kapan kalau bukan sekarang.. di mana kalau bukan di sini..’ Kata-kata sederhana yang seharusnya bisa keluar otomatis di kepala kita semua untuk mengingatkan saat kita berada di satu kebimbangan memilih.

Hanya ada dua pilihan.

Tiap kali harus berpikir keras untuk memilih, tiap kali itu juga jari-jari gue secara refleks memainkan sebuah koin yang sering gue kalungi.

Ratu atau angka.

Ketika logika gue tidak sanggup memutuskan, karena kedua pilihan itu sama enaknya, sama sengsaranya, maka yang gue lakukan adalah memutar cepat koin itu dalam sebuah durasi lagu yang sedang gue suka dan ketika musik berhenti, maka sisi yang pertama gue lihat itulah yang akan gue pilih. Ratu. Atau angka.

Hidup itu banyak pilihan, Oca..

Memang. Tapi pada akhirnya tetap harus memilih di antara dua yang tersortir.  Dan tiba-tiba saja, seorang Iwan Fals bernyanyi via itunes, aku bukan pilihan. Sialan.

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr