Category Archives: death

yang pertama kali selama empat bulan

Hi everyone!
Massive apologies for not updating my blog here for so long.. four months already.

Terimakasiy buat semua yang masih tetap datang berkunjung over the last couple of months but there’s nothing to look at! hehehe.. sorry!

Terakhir update blog waktu baru pulang dari rumah sakit karena usus buntu akut yang gak ketauan awalnya sehingga sampai pecah dan nyaris mengambil nyawa gue. Untung cepat dioperasi, bukan laparoskopi tapi bedah besar. Ternyata Tuhan masih kasih kesempatan buat menghirup oksigen dan mungkin untuk melakukan banyak hal lain yang lebih penting dan berguna buat diri gue. Dan orang lain yang benar-benar gue sayang.

Selama empat bulan ini, ada banyak banget valuable moments yang terjadi untuk pertama kalinya. Pertama kali nginep di rumah sakit selain karena melahirkan, pertama kali masuk ruang operasi. Pertama kali ngelihat Ulan ngejagain gue sendiri di rumah sakit. First time someone had a serious talk with my parents. First time i got big scars.

Yes, things are definitely a lot better than when i last posted!

Dan hari ini, 29 Agustus, hari lahir gue.
Sama kayak hari lahirnya Michael Jackson, hahaha gak penting yaaa.. biarin, yang penting i love him.
Hari ini pertama kali gue dibikin amazed sama Ulan, ada love letter yang dia tulis pakai tangan di cover CD yang isinya playlist lagu-lagu pilihan dia yang hmmm.. damn good, mayoritas bukan lagu-lagu mainstream top 40, buat anak perempuan seusia dia harus gue akuin kalau seleranya bit different, unique… i truly love the playlist.

Ini ucapan ultah dari Ulan:

You are capable to carry the weight of the sky, the soil, the hurricane, and the ocean along with the waves that clash onto ypur back yet you still manage to touch in the tenderest manner, your lips still kiss like cherry pie, your heart still have the space of the universe even when the world is trying to break it down.
You have that celestial unrealness that shows through your eyes.
I don’t know how to celebrate someone as ethereal as you but i will start with love songs.
Happy birthday!
P.S these songs are so or may be so corny, if you don’t like it just return it to me

Pengen nangis gak sihhhhh?!

Hmm.. waktu gue tanya, why is the words so deep? dia bilang karena itu gue di mata dia. Terharu!
Best words ever came from my little girl.

Aaaaand next my first six cupcakes!

Let’s continue to another ‘first time’.

Salah satunya, bikin pameran foto analog bareng teman-teman idFilm. Gue satu-satunya perempuan yang ikut photo exhibition ini. Perempuan edan, kalau kata mereka hahaha. Berasa anak bawang di antara abang-abang senior itu semua. Exhibitionnya di Negev resto di Gatsu bulan May kemarin dan baru selesai 20 Agustus kemarin, iyaaa.. diextend dari yang harusnya selesai bulan July.
Ini analog photo exhibition gue yang pertama. Gue motret pake film, diajarin nyuci dark room sama Tompi dan dicetak secara manual [wet printing] sama Tompi juga.
Udah aja foto gue kasih harga Rp 8jt, laku dibeli sama orang. Mungkin orang itu ngefans berat sama gue sampai foto bayangan cewek rambut pendek yang dia gak kenal aja dibeli sama dia hahahaa! Crazy.
It’s ok, paling nggak dari hasil penjualan ini bisa sedikit donate buat anak-anak penderita bibir sumbing yang butuh dioperasi. Alhamdulillah masih bisa kasih sedikit manfaat buat orang lain.

Idfilm analog photo

Negev Art gallery Bar & Restaurant

Analog photography

Kepingin punya satu mainan bisnis kecil, akhirnya dapat yellow money deposit box for #littlebit untuk yang pertama kali. Every month will save a bit. Satu juta rupiah pertama di awal Agustus ini.

Hmmm not forget to mention, a big big big tiring efforts for making one of my dreams come true. A new house for my parents.
Untuk pertama kali memindahkan ortu ke rumah baru di daerah Kali Sari Cijantung. Idul fitri tahun ini pun menjadi hari raya yang pertama dirayakan di rumah itu. I am happy for them. Feel so blessed.

July kemarin, pertama kalinya jalan ke Sinjapo bertiga: gue, Ul dan Al. Such a very fun and great moments we had. Pastinya akan ada yang kedua, ketiga, dst.. ke mana pun itu.

Dua minggu lalu, pertama kali pergi ke Shanghai, rombongan dan padat banget schedule acaranya.. berasa jadi tourist beneran hihihii..

Shanghai

Waktu ke sana itu pertama kalinya ke luar negeri gak pakai acara motret serius, cuma bawa pocket camera sama iphone, photo-photonya baru sebagian kecil diaplod di instagram gue. Monggo mampir yaaa kalau pengen lihat :]

That’s it, my first valuable moments for the last couple of months. Dan gue masih akan selalu mencari hal-hal baru yang belum pernah gue alami yang bisa memperkaya pengalaman batin gue kelak.

See you guys soon.

 

Alex Komang

Jam 9 malam tadi saya menerima telpon dari Mas Jerry, sebuah berita yang bikin saya shocked.
‘Oca, kamu sudah dengar kabar kalau Alex Komang meninggal dunia?’ pertanyaan yang saat saya dengar saya gak tau mesti dijawab atau tidak. Butuh waktu untuk saya bisa mencerna kata-kata Mas Jerry. Yang pada akhirnya saya cuma bisa jawab: ‘oh my God..’

Saya kenal Mas Alex sekitar lima tahun dan perkenalan awal kami cukup unik, lewat sebuah email. Mas Alex mengapresiasi salah satu foto saya. Sejak itu kami sering ngobrol di cafe Tator di Dharmawangsa Square atau di tempat makan favoritnya Ayam Bakar Ganthari di Blok M area. Sebelum akhirnya Mas Alex bikin cafe… hmm dia gak suka istilah cafe.. ya, sebelum akhirnya Mas Alex bikin Warung Darmin di Duren Tiga yang belakangan sering jadi tempat kami ketemu dan cerita-cerita tentang banyak hal.

Mas Alex adalah sosok orang yang sangat humble walau dia seorang aktor terkenal. Dia sering cerita tentang industri film dan juga senang mendengarkan saya cerita tentang industri periklanan. Tapi di antara semua cerita yang selalu dia sampaikan dengan penuh semangat, saya selalu menangkap perasaan sedih dan cinta yang luar biasa ketika dia bercerita tentang Aisyah, anak satu-satunya.
Ada satu momen yang saya gak akan pernah lupakan.
Pernah satu saat ketika saya undang Mas Alex via short message untuk datang ke pameran foto yang dibuat oleh teman-teman idLeica saya, dia bilang gak bisa hadir karena harus menjemput Aisyah yang datang liburan ke Jakarta dari sekolahnya di Kuala Lumpur dan saya tentunya sangat mengerti dan memaklumi. Tapi ternyata Mas Alex memberikan saya surprise karena akhirnya mau menyempatkan diri datang sebentar ke pameran setelah menjemput Aisyah dari bandara. Tentu saja saya senang. Buat saya, dia adalah orang yang memegang teguh komitmen dan selalu berusaha menyenangkan hati orang lain.

‘Membuat orang lain bahagia itu adalah sebuah berkah buat kita, Ca..’ begitu katanya dulu.

Saya belajar sedikit banyak tentang kehidupan dari Mas Alex. Tentang pemberontakan masa remaja, tentang akidah dan rasa sayang, tentang siang dan malam.
Betapa dia sangat mengagumi Teguh Karya, yang katanya hanya seorang Teguh Karya yang paling bisa menegur, memberi kritik dan memarahinya untuk bisa jadi lebih baik.

Terus terang, saya merasa kehilangan.
Dua bulan lalu, setelah memohon ijin memberikan nomor teleponnya ke salah seorang teman saya yang kebetulan butuh pertolongannya, kami berjanji ketemu untuk ngopi dan ngobrol tapi ternyata Tuhan memutuskan bahwa itu adalah kontak terakhir saya dengan Mas Alex. Tidak ada lagi kopi tubruk hitam dan singkong keju atau pisang goreng hangat yang bisa kami nikmati bersama.

Istirahat yang tenang di sana, Mas Alex.

Saya tidak mengenangmu sebagai seorang aktor senior berkualitas tapi saya mengenangmu sebagai seorang laki-laki baik yang berkarakter dan berkemauan kuat, pemberi kritik yang sempurna, teman yang selalu mendengarkan, ciptaan Tuhan yang tidak pernah habis-habisnya selalu menularkan semangat rahman rahiim ke orang-orang yang disayangi.

Saya mengenangmu sebagai seorang virgo sejati.

Rest in peace, Mas Alex.

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca amarlis

Oca Amarlis

to whom it may concern.. please don’t..

THIS IS HOW I LEARNED MY COLORS
by Laila Achmad

See the purples? Daddy made these by grabbing my arms while ripping off my clothes.
But don’t worry, it will fade out.

See the blues? Mommy made these by heating me up when I wouldn’t say I’m lying.
But don’t worry, it will fade out.

See the reds? Teacher made these with her iron ruler when I begged for help.
But don’t worry, it will fade out.

See the whites? The doctors made me see these for months.
But don’t worry, it will fade out.

See the black? I made this myself.
But this time it will not fade away.

***

just don’t let them learn that way,
please..

insomnia

Kupikir malam ini aku sangat ingin menjemputmu ke sebuah pesta kematian.
Tapi dengan wajah terbelah aku kembalikan gaun putih yang sangat ingin kukenakan ke dalam tumpukan paling atas lemari kayu jati.
Kembali aku melumati lantai pualam berlumut yang pernah kau lubangi dengan sabar, dari hari ke hari.
Kupikir malam ini aku sangat ingin menemanimu di sebuah meja makan panjang.
Memandangi matamu yang bisa seketika menjelma menjadi api. Membakar hidangan di meja.
Tapi aku terlalu takut panasmu menelan bulat bulat hatiku.
Hingga akhirnya aku nikmati sendiri saja segelas darah segar yang seharusnya kita minum bersama.

Sampai akhirnya ayam menyulam pagi. Aku berhenti untuk berpikir.
Pikiranku mati ditelan matahari.

laki-laki ku

Sepenggal tulisan dari seorang laki-laki yang mungkin kalau dia hidup saat ini seperti dia hidup di masa nya, saya akan tergila-gila mencintai isi kepalanya dan rela menghabiskan waktu bermalam-malam untuk mencabik-cabik isi hatinya. Soe Hok Gie.

—-

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal, dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa.
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

—-

Isn’t it sexy?

kepergian adalah kedatangan

Wajah-wajah lelah di atas gundukan tanah sana melelehkan teriknya panas menjadi rintik hujan.
Membentuk laut coklat kecil.
Sebagian airnya menggenangi batu bertulis R.I.P berhias kamboja putih.
‘Selamat datang, sayang..’
Aku tersenyum.
Suara itu berbisik, kemudian tertawa. Keras. Kemudian menghilang.
Aku membenci tawa itu.
Kini kurasakan kematian begitu temaram. Begitu hening.
Hanya sesekali terdengar tetes air keluar dari sela kelopak kamboja putih dan jatuh di atas nisanku.
Kini antara aku dan waktu tak lagi berjarak.
Satu, di keabadian.
Menunggumu di sini. Dalam senyum.

 

dua malam

Malam ini, sekali lagi, langit biru kelabu tanpa sinar bulan. Sama seperti kemarin. Sama seperti puluhan malam yang sudah lalu. Tapi entah kenapa malam ini terasa beda. Malam ini rasa kantuk lari entah kemana. Malam ini angin masuk pelan-pelan melalui sela-sela gorden dan meniupi debu tipis yang menempel pada jam meja di dekat jendela. Malam ini ia merasa bahagia. Padahal ini bukan tanggal istimewa. Ini cuma malam biasa yang membahagiakan.
Diambilnya sebatang rokok dari atas meja dan menghisapnya. Berdiri bersandar di bibir pintu dan mulai memainkan asap di bawah siraman lampu teras kamar.
Hari ini ia tidak bekerja. Entah apakah karena itu ia merasa bahagia. Ia hanya merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ketidakbiasaan yang membahagiakan. Entah sebenarnya karena apa. Seharian dihabiskannya dengan menulis. Menulis cerita tentang seorang anak dan kunang-kunang. Tulisan pertamanya yang selesai saat itu juga dengan lancar.
read more »

jalan menuju pulang

selama siang melangkahi tebing
kadang curam, kadang datar penuh batu
matahari di pangkal rambut
kulit meleleh bercampur debu

sepanjang malam berlari mengejar cahaya
bersama bintang-bintang yang cemas
apakah esok masih bisa dijelang
hingga bisa mengenang hari ini

malaikat itu menatapku dari jauh
dari balik pohon angsana di sudut pertigaan jalan
tidak memanggil, hanya menatap diam
sepertinya dia tahu
kalau aku telah dikelabui mimpi

jariku meraih tangannya yang cemerlang
seperti kerlip kunang-kunang di malam pekat
rambutku seketika berubah menjadi emas
dengan pita-pita putih mungil menyeruak manis
‘bahkan Tuhan pun bisa tersenyum melihatmu..’
suaranya lembut, bibirnya tak bergerak

dalam gelap terus kuseret kaki
melewati kumpulan nisan di sisi kiri
dengan telapak yang merah menyala
rambut emas itu mengibaskan wangi kamboja
menempel di sepanjang bibir jalan
menyerukan rindu

angin menjemputku di sudut jalan lainnya
menarik nafasku menyebrangi sungai sebening berlian
menghempaskan pita-pita putih mungil
yang akhirnya berjatuhan di halaman sebuah rumah
kulihat burung-burung gereja bersujud

embun pagi membasuh semua luka
darahku seketika mendingin
hati terisak di depan pintu kayu besar
jemariku terlalu lelah untuk mengetuk
hanya sanggup berkata lirih
‘aku pulang…’
dan kulihat wajah penuh senyum

 

*maaf lahir batin, everyone  =)

Hitam Putih. Hidup Mati.

Lahir. Ada. Hidup. Mati.

Kenapa kita bisa ada? Karena kita dilahirkan dari hasil pembuahan orang tua kita. Itu jawaban ala pelajaran biologi jaman SMP. Tapi memang benar, kita semua adalah hasil pembuahan. Buah yang terus tumbuh. Buah yang diharapkan menjadi buah yang manis.

Kenapa kita bisa ada? Apa yang sebenarnya ada? Tubuh kita? Nama kita? Jiwa kita? Jiwa?? Atau nyawa?

Tubuh yang bernyawa. Atau nyawa yang bertubuh.

Saya tidak ingin berdebat di arena pikiran saya sendiri antara tubuh dan jiwa. Capek, sudah malam. Intinya, tubuh pastilah sesuatu yang berbeda dengan jiwa. Tubuh, seperti benda lainnya di dunia ini, terdiri dari partikel yang bergerak dan terus tumbuh atau bahkan aus. Jiwa, menurut saya esensinya adalah kesadaran, keberadaannya tidak bergantung pada ruang dan waktu.

Untuk hidup, kita butuh tubuh dan jiwa. Dan secara hakikat, yang membedakan antara manusia hidup dan hewan atau tumbuhan hidup adalah pada akal. Animale rationale, itulah kita. Manusia.

Sebagai manusia yang berakal, pasti kita juga berkehendak. Punya keinginan. Kadang keinginan itu sangaaaat terlalu besar. Tidak pernah terselesaikan. Bahkan sampai keluar statement: “aku ingin hidup seribu tahun lagi” dan betapa itu berarti kita sangat ingin memuaskan keinginan, kalau bisa sampai menunda waktu ketiadaan kita sampai seribu tahun cahaya. Walah!

Ada. Tiada.

Untuk apa ada kalau pasti akan tiada?

Wah, bakal 7 hari 7 malam hanya membahas jawaban antara ada dan tiada ini. Hehehe.. Mungkin lain waktu saya akan tuliskan pikiran saya menjawab untuk apanya tadi.

Tiada. Tidak ada. Bukan hilang. Karena kalau hilang, artinya masih ada, hanya ngumpet entah di mana. Tiada sama dengan mati. Titik. Bukan koma. Finish. Selesai. Tamat.

Mati. Identik dengan gelap. Seperti sering kita bilang, mati lampu. Gelap toh? Atau mati mesinnya, artinya sudah tidak ada lagi hal yang mampu memberikan daya gerak, tidak lagi punya purpose. Beda yaaaa, sama mati gaya. Jangan disamain!

Mati, putus koneksi. Putus hubungan antara tubuh dan jiwa. Atau nyawa. Itu sebuah peristiwa yang ‘biasa’ dan sering kita tidak biasa menyikapinya. Ya iyalaaah, kalau orang hidup kan biasa kita lihat sehari-hari, coba kalau kematian? gak biasa kaaan kita lihat orang mati. Orang mati yang benar-benar kita ingin lihat berlama-lama adalah pasti orang yang kita kasihi selama dia hidup.

Ok, balik lagi, kalau kata Steve Jobs, life is brief, and then you die, you know?

Jadi percuma dong, kalau kita hidup terus pasti bakal mati, mending gak usah hidup. Lah, memangnya kita bisa request untuk dilahirkan atau tidak? Mungkin itu adalah satu dari dua hal yang tidak bisa kita ‘touch’, ada diluar kehendak kita pribadi.  Itu purely 100% kehendak Tuhan. Hal kedua adalah kematian. Kita tidak pernah tahu sesungguhnya kapan kita akan mati. Bisa aja siiiih ngatur sendiri, kalau mau mati berbarengan tanggal dan hari dengan Steve Jobs, go ahead just kill yourself tonight, hehehee… Tapi apa enaknya mati karena kehendak sendiri? Sumpah deh, saya aja yang ngebayangin jadi penontonnya bisa ngrasain sakitnya, gimana yang melakukannya yaaa..

Life is brief, and then you die. Itu kata Steve Jobs. Sepertinya Steve Jobs membaca Qur’an dengan seksama daripada kita-kita yang muslim ini deh, hehehe.. Lho kok gitu? Iyyaaaa… sepemahaman saya, hidup itu seperti brief, assignment, ada tugas mulia yang sebenarnya ditimpakan pada kita semua. Kita harus bisa belajar dari kehidupan kita sendiri, pada akhirnya untuk kita mengenal diri kita dan bisa memberi manfaat bagi orang di sekeliling kita. Supaya kita bisa menjadi imam, atas diri kita dahulu. baru kemudian bagi orang lain. Imam. Pemimpin. The one who taking the control. The one who decide. Leader. Atas di ri ki ta sen di ri.

We don’t get a chance to do that many things, and everyone should be really excellent. Because this is our life.

I want to put a ding in the universe.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Many more statements, many words from Steve Jobs yang bisa dijadikan cermin bahwa demikianlah nilai-nilai yang harus kita jalani dalam batasan antara kelahiran dan kematian.
Jangan sampai matinya kita hanya menyisakan hitam dan kuning saja. Berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Siapa tahu menghadapi kematian itu nantinya bisa seperti melihat bianglala. Siapa tahu.

 

Fit and Finish – Steve Jobs

Job’s point is ‘have a faith’ for yourself.

RIP

Comment Ratings plugin provided by mondo-casinos.fr